RealEstat.id

Long Weekend Mei 2026 Picu Lonjakan Hotel, Permintaan Domestik Indonesia Tembus 52%

Permintaan hotel domestik melonjak jelang long weekend Mei. Data terbaru ungkap tren baru wisatawan dan peluang bisnis properti.

permintaan hotel domestik Indonesia-RealEstat,id
Ilustrasi wisatawan domestik check-in hotel saat long weekend Indonesia (Sumber: RealEstat.id)

RealEstat.id (Jakarta) – Tren permintaan hotel domestik Indonesia diperkirakan akan mengalami lonjakan seiring dengan momentum libur panjang (long weekend) pada bulan Mei 2026.

Selama bulan Mei tahun ini, masyarakat akan mendapatkan libur dari momen Hari Buruh Internasional, Kenaikan Isa Almasih, hingga Idul Adha,

SiteMinder, platform hotel commerce terkemuka, memproyeksikan momentum long weekend Mei 2026 menjadi katalis baru bagi tren pemesanan domestik Indonesia.

Data terbaru dari SiteMimder menunjukkan bahwa permintaan hotel domestik kian mendominasi, sekaligus mengubah pola konsumsi akomodasi secara signifikan.

Baca Juga: SiteMinder Integrasikan AI untuk Distribusi Hotel, Mudahkan Pemesanan Bagi Wisatawan

Tren ini terlihat sejak periode Lebaran 2026, di mana perjalanan mudik semakin bergeser menjadi kombinasi antara tradisi keluarga dan aktivitas rekreasi.

Pertumbuhan Wisata Domestik Indonesia

Wisatawan domestik tercatat menyumbang 52% dari total pemesanan hotel pada Maret, meningkat dari 48% pada periode yang sama tahun lalu.

Secara tahunan, kontribusi pasar domestik juga terus naik, dari 43% pada 2024 menjadi 48% pada 2025.

Pertumbuhan pemesanan hotel tidak hanya terkonsentrasi di destinasi wisata utama, tetapi juga menyebar ke kawasan regional.

Lombok mencatat lonjakan tertinggi sebesar 7,5%, diikuti Yogyakarta 7,1% dan Bandung 6,8%—seluruhnya melampaui rata-rata nasional sebesar 2,6%.

Baca Juga: Industri Perhotelan Kian Dinamis, Parador Hotels & Resorts Hadirkan Solusi Hospitality dan MICE

Kondisi ini mengindikasikan pergeseran minat wisatawan ke destinasi yang lebih dekat, terjangkau, dan menawarkan pengalaman berbeda.

Dari perspektif bisnis properti, tren ini membuka peluang ekspansi hotel dan akomodasi di kota-kota sekunder, termasuk pengembangan resort, vila, hingga konsep mixed-use yang terintegrasi dengan destinasi wisata.

Sementara itu, Bali sebagai pasar matang tetap stabil dengan pertumbuhan 0,1%, mencerminkan tingginya basis permintaan yang sudah terbentuk.

Pola Pemesanan Makin Singkat

Selain pertumbuhan permintaan, perubahan perilaku konsumen juga terlihat dari semakin pendeknya lead time pemesanan.

Country Manager SiteMinder Indonesia, Fifin Prapmasari menerangkan secara nasional, rata-rata waktu pemesanan turun dari 16 hari menjadi 15 hari.

“Penurunan paling signifikan terjadi di Lombok, dengan lead time menyusut 16% menjadi rata-rata 20 hari,” terang Fifin melalui keterangan tertulis, Rabu (29/05/2026).

Baca Juga: Tren Pemesanan Hotel 2025: Wisatawan Cari Penginapan yang Mengedepankan Budaya Lokal

Bandung, lanjutnya, bahkan mencatat rata-rata hanya 8 hari, sementara Bali berada di angka 31 hari.

Ia mengatakan bahwa fenomena ini menunjukkan bahwa wisatawan kini lebih spontan dan fleksibel dalam merencanakan perjalanan.

Bagi pelaku industri, kondisi ini menuntut strategi pemasaran dan distribusi yang lebih agile, termasuk optimalisasi platform digital dan penyesuaian harga secara real-time.

Tekanan Tarif Jadi Tantangan

Di tengah meningkatnya volume pemesanan, industri perhotelan menghadapi tekanan pada sisi tarif.

Secara nasional, average daily rate (ADR) turun 3,3% menjadi Rp1,71 juta dari sebelumnya Rp1,77 juta.

Baca Juga: 5 Tempat Wisata di Yogyakarta Paling Populer 2025, Destinasi Terbaik untuk Liburan!

Bali mengalami penurunan terbesar sebesar 7,4%, diikuti Yogyakarta (-3,4%) dan Lombok (-3,2%). Bandung menjadi pengecualian dengan kenaikan tarif 2,5% menjadi Rp955.000.

Menurut Fifin Prapmasari, kondisi ini mencerminkan kompetisi harga yang semakin ketat dalam menarik wisatawan domestik.

Namun, ia menegaskan bahwa peluang tetap terbuka lebar. Hotel yang mampu mengemas paket pengalaman bernilai tambah serta menerapkan strategi revenue management yang dinamis akan berada pada posisi unggul.

Redaksi@realestat.id

Simak Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News

Topik

Artikel Terkait