Lompat ke konten utama

RealEstat.id

Membaca Arah Pasar Properti Jabodetabek di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

ketidakpastian global tidak serta-merta memicu perlambatan pasar properti Jabodetabek, namun mengubah pola pengambilan keputusan para stakeholder.
pasar properti jabodetabek kuartal semester i ii iii iv realestat.id dok
Properti Jabodetabek (Ilustrasi Foto: Realestat.id)

RealEstat.id (Jakarta) – Ketegangan geopolitik yang meningkat di Timur Tengah, ditambah dengan pelemahan nilai tukar rupiah dan suku bunga yang lebih tinggi, menciptakan kondisi pasar properti yang lebih hati-hati di sepanjang kuartal II 2026.

Namun, ketidakpastian tersebut tidak serta-merta memicu perlambatan pasar secara luas. Sebaliknya, kondisi ini mengubah pola pengambilan keputusan para pemangku kepentingan di pasar properti Jabodetabek.

Menurut konsultan properti Savills Indonesia, pengembang, penyewa, dan investor menjadi semakin selektif dalam mengambil keputusan.

Mereka lebih mengutamakan kualitas aset, fleksibilitas, serta menjaga likuiditas dan modal dibandingkan melakukan ekspansi secara agresif.

“Perubahan strategi tersebut terlihat di berbagai sektor properti,” terang Tommy Henria Bastamy, Senior Director Research and Consultancy Savills Indonesia.

Baca Juga: Pasokan Anjlok 64,9% di Semester I 2026, Pasar Perumahan Tapak Jabodetabek Andalkan Segmen Menengah

Di sektor industri, permintaan tetap kuat. Hal ini terutama didorong oleh kebutuhan dari industri pusat data (data center).

“Namun, kesiapan infrastruktur listrik dan proses persetujuan regulasi masih menjadi tantangan yang berpotensi menyebabkan tertundanya sejumlah transaksi,” ujar Tommy.

Di sektor kawasan industri, pasokan baru berasal dari Sinar Primera Industrial Karawang Eco-City (SPIKE) di Karawang.

Proyek ini memasuki tahap pertama pengembangan dengan luas sekitar 140 hektare, menambah ketersediaan lahan industri di salah satu kawasan manufaktur utama di Jawa Barat.

“Di sisi lain, permintaan yang relatif kuat dari operator logistik dan perusahaan manufaktur turut menopang tingkat okupansi gudang modern, meskipun kondisi eksternal masih cukup menantang,” jelasnya.

Baca Juga: Pasar Industri Jabodetabek Masuki Fase Investasi Baru, Kualitas Investasi Jadi Prioritas

Di sektor perkantoran, aktivitas sewa masih lebih banyak mengarah pada gedung berkualitas tinggi, khususnya gedung Grade A.

Hinggal akhir Kuartal II 2026, total pasokan ruang perkantoran di Jakarta mencapai 5,08 juta m² dengan tingkat okupansi keseluruhan mencapai 75%.

“Dengan tingkat keterisian tersebut, masih terdapat sekitar 1,27 juta m² ruang yang belum terisi,” ungkap Tommy Bastamy.

Sementara itu, pasokan baru yang diproyeksikan masuk ke pasar dalam periode 2026 hingga 2028 mencapai sekitar 145.000 m².

Tambahan pasokan ini berpotensi meningkatkan pilihan ruang yang tersedia sekaligus memengaruhi tingkat persaingan di pasar ke depan.

KategoriNama ProyekAreaPasokan
HotelMercure Hotel GrogolJakarta Barat95 kamar
Nawana by AlanaSentul, Bogor142 kamar
ApartemenSky House BSD – Esplanade TowerTangerang1.300 unit
Kawasan IndustriSinar Primera Industrial Karawang Eco-City (SPIKE)Karawang±140 ha (fase 1)

Pasokan properti baru di Jabodetabek Kuartal II 2026 (Sumber: Savills Research & Consultancy, Juli 2026)

Baca Juga: Pasar Perkantoran CBD Jakarta Mulai Pulih, Green Office Kian Diminati Tenant

Sementara itu, ekspansi sektor properti ritel tetap terkonsentrasi di pusat perbelanjaan gaya hidup yang berada di lokasi-lokasi utama Jabodetabek.

Berdasarkan kondisi pasar hingga kuartal II 2026, total pasokan ruang ritel di Jabodetabek mencapai 7,13 juta m². Dari jumlah tersebut, Jakarta menyumbang 3,51 juta m², sementara Bodetabek mencapai 3,57 juta m².

Dari sisi okupansi, pasar ritel Jakarta mencatat tingkat keterisian yang lebih tinggi, yakni 86,2%, dibandingkan Bodetabek yang berada di level 77,9%.

Tommy menjelaskan, hal ini menunjukkan bahwa ruang yang tersedia di Jakarta relatif lebih banyak terserap dibandingkan kawasan Bodetabek.

Sementara itu, pasokan baru yang diproyeksikan masuk ke pasar selama periode 2025–2028 mencapai sekitar 115.000 m².

Jakarta diperkirakan mendapatkan tambahan pasokan sekitar 60.000 m², sedangkan Bodetabek akan memperoleh sekitar 55.000 m².

Baca Juga: Pasar Perhotelan Jakarta Melemah, Tertekan Efisiensi Anggaran Pemerintah

Berbeda dengan sektor lainnya, industri perhotelan Jabodetabek lebih berfokus pada upaya meningkatkan kembali tingkat okupansi melalui strategi penetapan harga yang terukur.

Pada kuartal II 2026, terdapat dua proyek yang masuk ke pasar, yakni Mercure Hotel Grogol di Jakarta Barat dengan tambahan 95 kamar, serta Nawana by Alana di Sentul, Bogor, yang menyediakan 142 kamar.

Sementara itu, tutur Tommy Bastamy, pasar apartemen masih berada dalam posisi yang lebih menguntungkan bagi pembeli.

Kondisi pembiayaan yang lebih ketat mendorong pengembang untuk meningkatkan daya tarik proyek melalui berbagai insentif guna mendorong penjualan.

Sementara itu, sektor apartemen mendapat tambahan pasokan dari Sky House BSD – Esplanade Tower di Tangerang dengan total 1.300 unit.

“Kehadiran proyek ini turut memperkaya pilihan hunian vertikal di kawasan Tangerang dan sekitarnya,” jelasnya.

Baca Juga: Pasar Apartemen Ibu Kota Bergerak Positif, Jakarta Selatan Pasok Proyek Baru Hingga 2029

Masih Tetap Stabil

Savills Indonesia memprediksi, pasar properti Jabodetabek secara umum masih berada dalam kondisi relatif stabil meskipun menghadapi tantangan dari lingkungan eksternal.

Tommy Bastami, menuturkan, permintaan tetap ada, tetapi semakin selektif, sementara pertumbuhan harga cenderung terbatas.

Aset dengan lokasi strategis dan kualitas tinggi masih menunjukkan kinerja yang lebih baik di tengah kondisi pasar yang penuh kehati-hatian.

“Namun, tanpa adanya perbaikan yang berkelanjutan pada kepercayaan bisnis dan kondisi eksternal, tekanan terhadap pasar properti secara lebih luas berpotensi meningkat pada paruh kedua 2026,” pungkasnya.

Redaksi@realestat.id

Simak Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News

Topik

Artikel Terkait