RealEstat.id (Jakarta) – Hingga akhir Kuartal II 2026, pasar properti industri di Jakarta dan sekitarnya menerima sekitar 40 hektare lahan baru, di mana koridor Karawang–Purwakarta menjadi pemasok utama.
Riset yang dilakukan Leads Property menyebut, dengan tambahan suplai baru, total pasokan lahan industri di kawasan tersebut mencapai 14.047 hektare.
Sementara itu, di tengah ketidakpastian global yang masih menantang dan depresiasi nilai tukar Rupiah, pemilik lahan terpantau masih aktif menawarkan lahan baru ke pasar, terutama di kawasan Jakarta Timur Raya (Greater Eastern Jakarta).
“Langkah tersebut diambil untuk mengantisipasi potensi permintaan, khususnya dari investor asal China,” jelas Martin Samuel Hutapea, Head of Research & Consultancy Leads Property.
Baca Juga: Koridor Timur Jakarta Dominasi Pasokan Lahan Properti Industri Jabodetabek, Cilegon Menyusul
Seiring dengan bertambahnya pasokan baru, permintaan lahan industri secara kuartalan juga meningkat menjadi 67 hektare.
Menurut Martin, angka ini melampaui capaian kuartal sebelumnya dan membawa total permintaan kumulatif menjadi 12.880 hektare.
Selain itu, permintaan tetap menunjukkan ketahanan, didukung oleh kuatnya konsumsi domestik dan stabilnya investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI).
Di sisi lain, para investor masih mempertahankan kepercayaan terhadap prospek pertumbuhan jangka panjang Indonesia meskipun kondisi perekonomian global masih diliputi ketidakpastian.
“Kondisi tersebut mendorong tingkat penjualan meningkat 0,2 poin persentase menjadi 91,7%,” ungkap Martin Samuel Hutapea.

Baca Juga: Pasar Industri Jabodetabek Masuki Fase Investasi Baru, Kualitas Investasi Jadi Prioritas
Menukil data Leads Property, permintaan lahan industri masih terkonsentrasi di koridor Jakarta Timur Raya, dengan kawasan Karawang dan Purwakarta semakin menjadi pilihan.
“Kedua kawasan ini diminati karena memiliki ketersediaan lahan mentah yang cukup besar. Sementara itu, sektor logistik, FMCG, pusat data, dan manufaktur terus menjadi pendorong utama permintaan,” terangnya.
Sementara itu, harga rata-rata lahan industri di Jakarta dan sekitarnya mencapai Rp3,35 juta per meter persegi, atau meningkat 6,6% secara kuartalan (QoQ).
Kenaikan tersebut terutama didorong oleh tingginya minat dan jumlah permintaan informasi (inquiry) di Bekasi, Karawang, dan Purwakarta.
Sedangkan, tarif sewa gudang relatif stabil di level Rp77.000 per meter persegi per bulan, atau meningkat tipis 1,8% dalam enam bulan terakhir.
Baca Juga: Makin Terintegrasi, Kawasan Industri di Semarang Raya Tebar Pesona kepada Investor
Kendati tekanan dari kondisi global masih berlangsung, Leads Property memperkirakan prospek pasar industri di kawasan Jakarta Raya (Greater Jakarta) tetap positif.
Martin menuturkan, ketegangan geopolitik dan volatilitas nilai tukar Rupiah memang dapat memengaruhi sentimen investasi, tetapi Indonesia tetap menarik bagi pelaku industri asing yang ingin melakukan diversifikasi rantai pasok regional mereka.
Selain itu, depresiasi Rupiah meningkatkan daya saing biaya Indonesia di pasar internasional. Oleh karena itu, sektor-sektor yang berorientasi ekspor diperkirakan akan terus menopang pertumbuhan pasar industri secara lebih luas.
“Di sisi lain, bangunan pabrik siap pakai (ready-to-use factory buildings) dan gudang diperkirakan tetap mencatat permintaan yang kuat di tengah kondisi pasokan yang terbatas, terutama akibat meningkatnya biaya konstruksi,” tutupnya.
Simak Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News








