RealEstat.id (Jakarta) – Keterbatasan lahan dan menipisnya pasokan hunian di kota Sydney, Australia, ternyata tidak membuat pasar rumah tapak (landed house) sepi peminat.
Baik end user maupun investor tetap melirik rumah tapak lantaran dinilai menawarkan ruang yang lebih luas, privasi, akses langsung ke garasi, serta kenyamanan untuk membangun kehidupan keluarga.
Namun, mendapatkan rumah tapak di Sydney kini semakin menantang. Pertumbuhan populasi, terbatasnya ketersediaan lahan, dan tingginya biaya konstruksi membuat pasokan rumah tapak semakin sulit memenuhi kebutuhan masyarakat, terutama di lokasi strategis dengan akses mudah menuju pusat aktivitas kota.
Kondisi tersebut tercermin dalam laporan State of the Housing System 2025 yang dirilis National Housing Supply and Affordability Council (NHSAC).
Laporan itu memproyeksikan pembangunan sebanyak 938.000 rumah baru hingga 2029, jauh di bawah target pemerintah Australia sebesar 1,2 juta unit. Dengan demikian, terdapat potensi kekurangan pasokan sekitar 262.000 rumah.
Kesenjangan tersebut tidak semata-mata disebabkan oleh keterbatasan lahan. Sektor konstruksi juga menghadapi tantangan struktural, mulai dari minimnya tenaga kerja terampil, rendahnya produktivitas, hingga kompleksitas proses perizinan.
Baca Juga: Lahan Hunian di Sydney Kian Terbatas, Ini Alasan Roselands Layak Dilirik Pembeli Properti Indonesia
Ketika pembangunan rumah baru tidak mampu mengimbangi pertumbuhan kebutuhan, tekanan terhadap harga properti dan keterjangkauan hunian pun semakin meningkat.
Di tengah kondisi ini, muncul pertanyaan penting bagi pasar properti Sydney: ketika rumah tapak semakin sulit dijangkau, apakah masyarakat harus mengorbankan kenyamanan dan privasi yang selama ini menjadi ciri khas landed living?
Perubahan tren pasar menunjukkan bahwa kebutuhan tersebut tidak harus hilang. Salah satu jawabannya hadir melalui pengembangan townhouse generasi baru yang dirancang untuk mengoptimalkan penggunaan lahan, sekaligus tetap menawarkan ruang, privasi, dan kenyamanan yang mendekati karakter rumah tapak.
Dalam pasar perumahan Australia, konsep ini dikenal sebagai missing middle housing, yaitu kategori hunian yang menjembatani rumah tapak konvensional dan apartemen bertingkat tinggi (high-rise).
Townhouse menjadi salah satu bentuk hunian dalam kategori ini karena mampu menghadirkan alternatif tempat tinggal yang lebih efisien dalam pemanfaatan lahan, tanpa sepenuhnya meninggalkan karakter hunian privat.
Di tengah tekanan pasokan dan keterbatasan lahan di Sydney, konsep missing middle housing semakin relevan.
Pendekatan ini mencerminkan evolusi pasar properti perkotaan yang berupaya menyeimbangkan kebutuhan akan hunian, efisiensi penggunaan lahan, dan kualitas hidup penghuninya.
Baca Juga: CVIG: Australia Krisis Pasokan Hunian, Investor Indonesia Harus Manfaatkan Peluang

Townhouse: Masa depan Landed Living di Sydney
CEO Capital Value International Group (CVIG), Chandra Leonardi, menegarai perubahan tersebut sebagai bagian dari tren yang lebih besar di pasar properti Sydney.
Menurutnya, keterbatasan lahan secara perlahan mengubah cara konsumen memaknai hunian premium dan apa yang mereka anggap sebagai sebuah properti berkualitas.
“Kami melihat ada perubahan yang cukup fundamental dalam cara pasar memandang properti landed. Dulu, ukuran lahan sering menjadi indikator utama kemewahan. Namun ketika lahan semakin terbatas dan harga terus meningkat, definisi tersebut mulai bergeser,” jelasnya.
Menurut Chandra, pembeli tidak hanya mencari berapa luas tanah yang mereka miliki, tetapi apa yang bisa didapatkan dari properti tersebut.
“Mereka melihat berapa besar ruang yang tersedia, seberapa privat lingkungan tempat mereka tinggal, seberapa baik aksesnya, seberapa efisien bangunannya, dan bagaimana kualitas aset tersebut dapat bertahan dalam jangka panjang,” katanya.
Chandra Leonardi menuturkan, perubahan tersebut menunjukkan bahwa konsep luxury living di Sydney mulai bergerak dari sekadar ukuran menuju kualitas pengalaman tinggal secara keseluruhan.
Baca Juga: Sydney tetap Jadi Magnet bagi Investor dan Pelaku Bisnis Global, Iwan Sunito Ungkap Alasannya
“Ini bukan hanya tentang semakin sedikitnya lahan, tetapi tentang bagaimana pasar beradaptasi terhadap kelangkaan tersebut. Kami melihat konsumen semakin rasional dalam menentukan apa yang mereka anggap sebagai premium,” terangnya.
Dia menilai, konsumen tetap menginginkan ruang dan privasi, tetapi pada saat yang sama semakin memperhatikan lokasi, kualitas konstruksi, efisiensi energi, biaya operasional, dan potensi nilai properti dalam jangka panjang.
Perubahan tersebut juga mendorong munculnya kategori hunian yang berada di antara rumah tapak konvensional dan apartemen.
Townhouse dengan desain dan proporsi yang tepat, menurut Chandra, memiliki peluang untuk mengisi ruang tersebut dengan menawarkan efisiensi penggunaan lahan, sekaligus mempertahankan karakteristik yang selama ini membuat rumah tapak diminati.
“Kami percaya, masa depan landed living di Sydney bukan berarti semua orang harus memiliki rumah dengan lahan yang sangat besar,” urainya.
Esensinya adalah mempertahankan pengalaman tinggal yang berkualitas—ruang yang cukup, privasi, rasa memiliki, akses yang baik, dan lingkungan yang nyaman—dengan cara yang lebih efisien terhadap lahan.
“Di situlah kami melihat evolusi townhouse dan hunian suburban premium akan memainkan peran yang semakin penting,” kata Chandra.
Baca Juga: Kenaikan Biaya Konstruksi Tidak Akan Matikan Pasar Apartemen Indent di Australia

Hadirkan Highgrove: Luxury Townhouse di Sydney
Perspektif tersebut menjadi salah satu dasar pengembangan Highgrove, proyek luxury townhouse yang diperkenalkan oleh CVIG di kawasan Roselands, New South Wales (NSW).
Highgrove dirancang bukan sekadar sebagai alternatif atas semakin terbatasnya ketersediaan rumah tapak di kawasan metropolitan Sydney, tetapi sebagai evolusi landed living yang mempertahankan karakter utama rumah tapak dalam format hunian yang lebih efisien terhadap penggunaan lahan.
Pendekatan ini sekaligus menjawab persepsi lama bahwa townhouse merupakan pilihan kompromistis bagi mereka yang menginginkan kepemilikan properti, tetapi harus menerima ruang yang lebih terbatas dibandingkan rumah tapak konvensional.
“Selama ini townhouse sering dipersepsikan sebagai kompromi—lebih kecil, lebih padat, dan menawarkan lebih sedikit ruang dibandingkan rumah tapak tradisional. Kami melihat bahwa persepsi tersebut mulai berubah secara signifikan,” ungkap Chandra.
Ketika lahan semakin terbatas, imbuhnya, tantangannya bukan sekadar membangun lebih banyak unit di atas tanah yang ada, tetapi bagaimana menciptakan townhouse yang tetap memberikan kualitas hidup, kelapangan ruang, privasi, dan rasa memiliki seperti sebuah rumah tapak
“Highgrove kami rancang dari perspektif tersebut. Kami tidak ingin sekadar memaksimalkan jumlah hunian, melainkan mempertahankan pengalaman landed living yang sesungguhnya melalui proporsi bangunan yang lapang, kepemilikan double garage, privasi tinggi, posisi elevated, serta lingkungan yang tenang—dalam format yang sangat relevan dengan realitas pasar Sydney saat ini,” tambahnya.
Baca Juga: Pintu Internasional Dibuka, Pasar Apartemen di Australia Hadapi Masalah Serius
Highgrove Bukan Sekadar Townhouse
Dirancang oleh M.A.R.S Architecture & Interior Design Australia dengan konsep Contemporary Modern, Highgrove berupaya menghilangkan stigma bahwa townhouse identik dengan ruang yang terbatas.
Setiap unit memiliki strata area sekitar 240 m² hingga 340 m², memberikan skala ruang yang dirancang untuk mendukung kebutuhan keluarga modern sekaligus mempertahankan karakter hunian privat.
Besarnya area tersebut menjadi salah satu pembeda Highgrove dibandingkan persepsi umum terhadap townhouse yang identik dengan keterbatasan ruang.
Konsepnya bukan sekadar menghadirkan jumlah kamar atau luas bangunan, tetapi menciptakan transisi ruang yang memungkinkan penghuni mendapatkan pengalaman tinggal yang lebih menyerupai rumah tapak.
Karakter lokasi turut menjadi bagian dari konsep tersebut. Highgrove berada di area cul-de-sac, atau jalan buntu, yang memiliki intensitas lalu lintas lebih rendah dibandingkan jalan utama. Posisi proyek yang elevated di atas bukit juga memberikan perspektif terbuka menuju cakrawala Sydney.
Sementara itu, keberadaan double garage pada setiap unit memperkuat aspek independensi dan kepraktisan yang selama ini menjadi salah satu daya tarik utama rumah tapak.
Kombinasi antara ruang, privasi, akses kendaraan, dan lingkungan yang lebih tenang tersebut menunjukkan bagaimana townhouse dapat berkembang dari sekadar alternatif keterbatasan lahan menjadi sebuah kategori hunian dengan proposisi nilai tersendiri.
Baca Juga: Pasar Hunian Australia Melemah, Iwan Sunito Ungkap Alternatif Investasi Properti Menggiurkan

Utamakan Kualitas Hidup Lewat Keberlanjutan
Perubahan standar hunian tidak berhenti pada luas bangunan. Bagi end user dan investor properti saat ini, kualitas hunian semakin berkaitan dengan bagaimana sebuah properti bekerja dalam jangka panjang—mulai dari kenyamanan termal, penggunaan energi, pencahayaan alami, hingga potensi efisiensi biaya operasional. Karena itu, aspek keberlanjutan menjadi bagian dari pendekatan desain Highgrove.
Proyek ini mengintegrasikan Energy Efficiency Rating 7-Star, dengan sejumlah elemen desain yang mendukung efisiensi energi dan kenyamanan penghuni. Pendekatan tersebut antara lain diwujudkan melalui desain pasif, pemanfaatan pencahayaan alami, skylight, penggunaan lampu hemat energi, serta sistem pemanas dengan efisiensi tinggi.
Pendekatan tersebut menjadi semakin relevan karena efisiensi energi tidak lagi semata-mata dipandang sebagai isu lingkungan.
Bagi pemilik rumah, konsumsi energi juga berhubungan langsung dengan biaya operasional dan kualitas kenyamanan sehari-hari. Sementara bagi investor, karakteristik bangunan yang lebih efisien dapat menjadi bagian dari pertimbangan terhadap daya tarik dan relevansi aset dalam jangka panjang.
Highgrove juga mengintegrasikan sistem pengelolaan air hujan melalui On-Site Detention (OSD) Tank yang ditempatkan di bawah area driveway. Sistem tersebut dirancang untuk membantu mengendalikan limpasan air hujan dari area kompleks dan menjadi bagian dari pendekatan pengelolaan lingkungan di tingkat proyek.
“Bagi investor maupun pemilik hunian, aspek keberlanjutan dan perlindungan pascapembelian bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan bagian integral dari efisiensi biaya operasional sehari-hari dan penentu nilai aset dalam jangka panjang,” tutup Chandra.
Simak Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News








