Naik 7,2%, Intiland Bukukan Pendapatan Usaha Rp2,7 Triliun di 2019

Pendapatan dari pengembangan proyek masih memberikan kontribusi terbesar, yakni mencapai Rp2,1 triliun atau 77,2% dari total pendapatan di 2019.

South Quarter, proyek besutan PT Intiland Development Tbk
South Quarter, proyek besutan PT Intiland Development Tbk

RealEstat.id (Jakarta) – Di tengah perlambatan yang terjadi di industri properti nasional, laporan keuangan tahunan PT Intiland Development Tbk (kode emiten: DILD) yang berakhir 31 Desember 2019 mencatat pendapatan usaha sebesar Rp2,7 triliun, atau naik 7,2% dibanding tahun 2018 yang mencapai Rp2,5 triliun.

Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi Intiland, Archied Noto Pradono menjelaskan, naiknya pendapatan usaha di 2019 terutama dari pengakuan penjualan dari segmen pengembangan mixed-use and high rise dan kawasan perumahan. Kenaikan tersebut juga ditopang dari penjualan dari aset-aset non-core yang belum akan dikembangkan dalam waktu dekat pada kuartal keempat tahun lalu.

Baca Juga: Strategi Pemasaran Properti di Tengah Pandemi Virus Corona

“Pendapatan usaha meningkat terutama karena adanya penyelesaian beberapa proyek baru, sehingga hasil penjualannya bisa diakui dan dicatatkan sebagai pendapatan usaha. Pembangunan proyek-proyek ini sudah tahap penyelesaian dan mulai serah terima ke konsumen seperti kondominium Graha Golf, The Rosebay, Spazio Tower dan 1Park Avenue,” kata Archied Noto Pradono dalam siaran pers yang diterima RealEstat.id.

Development Income Sumbang 77,2%
Menurut Archied, pendapatan pengembangan (development income) masih memberikan kontribusi terbesar yang mencapai Rp2,1 triliun atau 77,2% dari keseluruhan. Dibandingkan tahun 2018 senilai Rp1,9 triliun, nilai pendapatan pengembangan meningkat sebesar 8%.

Pendapatan usaha berikutnya bersumber dari pendapatan berkelanjutan (recurring income) yang memberikan kontribusi Rp623,1 miliar atau memberikan kontribusi 22,8% dari keseluruhan. Pendapatan usaha dari segmen properti investasi ini membukukan peningkatan 4,5% dibandingkan pencapaian tahun 2018 yang nilainya Rp596,4 miliar.

Baca Juga: Sinar Mas Land Serahkan 100 APD Kepada Pemkot Tangerang Selatan

Dari sumber pendapatan pengembangan, menurut Archied, segmen mixed-use & high rise tercatat memberikan kontribusi paling besar mencapai Rp1,1 triliun, atau 40,6%. Kontribusi tersebut mengalami peningkatan 30,9% dibandingkan pencapaian 2018 yang sebesar Rp819,5 miliar.

Kontributor berikutnya berasal dari segmen pengembangan kawasan perumahan yang mencapai Rp942 miliar atau 34,4%. Dibandingkan pencapaian tahun 2018 sebesar Rp629,6 miliar, terjadi peningkatan sebesar 49,6% di tahun 2019.

“Segmen pengembangan kawasan industri menyumbang Rp60,3 miliar atau 2,2% dari total. Sebagian besar berasal dari penjualan lahan industri Ngoro Industrial Park di Mojokerto, Jawa Timur dan penjualan gudang logistik di Aeropolis, Tangerang,” tutur Archied.

Baca Juga: Wabah Covid-19, Pelayanan Pertanahan ATR/BPN Gunakan Jalur Elektronik

Meningkatnya pendapatan usaha menyebabkan laba kotor perseroan juga mengalami kenaikan. Perseroan mencatatkan perolehan laba kotor tahun 2019 sebesar Rp1,1 triliun, naik 12,5% dibandingkan tahun 2018 yang mencapai Rp1 triliun. Sementara laba usaha perseroan juga melonjak 44,2% menjadi Rp603,5 miliar, dibandingkan tahun 2018 senilai Rp418,7 miliar.

“Laba bersih Intiland tahun lalu Rp251,4 miliar, naik 23,5% dibandingkan tahun 2018 sebesar Rp203,7 miliar. Naiknya laba bersih ini juga disumbang dari hasil penjualan saham perseroan di National Hospital di Surabaya, pada akhir tahun lalu,” ungkap Archied.

Strategi di Tengah Pandemi
Archied mengakui bahwa tantangan Industri properti cukup berat tahun ini. Kondisi darurat akibat pandemik penyebaran Covid-19 telah secara langsung menciptakan dampak negatif terhadap kondisi perekonomian dan bagi upaya pemulihan sektor properti nasional serta berdampak terhadap arus kas perusahaan.

Perseroan akan terus berupaya menjaga kinerja usaha tahun ini dengan strategi pengembangan fokus pada proyek-proyek eksisting atau proyek yang berjalan. Mencermati perkembangan situasi dan kondisi saat ini, perseroan cenderung menempuh langkah konservatif dalam memutuskan setiap pengembangan proyek baru.

Baca Juga: Wisma Atlet Kemayoran Siap Digunakan Sebagai Rumah Sakit Darurat Covid-19

"Peluncuran proyek baru tentu ada sesuai rencana pengembangan. Namun kami terus memantau situasi dan arah pergerakan pasar secara teliti dan hati-hati untuk mendapatkan momentum terbaik saat peluncuran," kata Archied.

Untuk tahun ini, perseroan akan fokus pada upaya meningkatkan kinerja penjualan dari inventori atau stok produk di proyek-proyek berjalan. Perseroan terus mengeksplorasi semua peluang pasar, termasuk ke segmen konsumen menengah ke bawah yang masih cenderung bergerak dengan target utama para pembeli akhir (end user).

Berita Terkait

Signify menghasilkan 84% pendapatan dari produk, sistem, dan layanan hemat energi. (Foto: Signify Indonesia)
Signify menghasilkan 84% pendapatan dari produk, sistem, dan layanan hemat energi. (Foto: Signify Indonesia)
Jajaran direksi generasi pertama dan generasi kedua Kenari Djaja di perayaan HUT ke-56, Senin, 1 Maret 2021.
Jajaran direksi generasi pertama dan generasi kedua Kenari Djaja di perayaan HUT ke-56, Senin, 1 Maret 2021.
Masterplan Subang Smartpolitan (Foto: Suryacipta.com)
Masterplan Subang Smartpolitan (Foto: Suryacipta.com)
Ganko Oyaji secara resmi membuka toko pertamanya di Indonesia, pada  Sabtu, (27/02/2021) lalu. (Foto: dok Ganko Oyaji Indonesia).
Ganko Oyaji secara resmi membuka toko pertamanya di Indonesia, pada Sabtu, (27/02/2021) lalu. (Foto: dok Ganko Oyaji Indonesia).