Lompat ke konten utama

RealEstat.id

Pasar Perkantoran Jakarta Berangsur Pulih, Gedung Premium Jadi Pilihan Penyewa

Perkantoran premium mencatatkan okupansi sekitar 83%, mencerminkan kuatnya permintaan pasar terhadap gedung berkualitas tinggi di Jakarta.
ruang perkantoran jakarta premium realestat.id dok
Foto: Realestat.id

RealEstat.id (Jakarta) – Pasar perkantoran Jakarta terus menunjukkan pemulihan secara bertahap dengan dukungan aktivitas relokasi perusahaan dan peningkatan kualitas ruang kantor yang ditempati.

Kendati demikian, pemulihan pasar perkantoran Jakarta masih selektif dan lebih banyak didorong oleh penyesuaian kebutuhan ruang dibandingkan ekspansi bisnis yang masif.

Ferry Salanto, Kepala Riset Colliers Indonesia mengatakan, dengan makin selektifnya penyewa dalam mengambil keputusan, pemulihan pasar perkantoran Jakarta juga didorong oleh kebutuhan kualitas, bukan semata-mata oleh harga.

Menurutnya, gedung-gedung yang berpotensi pulih lebih cepat adalah gedung yang menawarkan struktur sewa yang fleksibel, ruang siap pakai, kemudahan akses transportasi publik, serta kredensial keberlanjutan.

Baca Juga: Pasar Perkantoran CBD Jakarta Mulai Pulih, Green Office Kian Diminati Tenant

Di sisi lain, para pemilik gedung mulai lebih percaya diri dalam mempertahankan harga sewa, sembari menawarkan insentif yang kompetitif, yang mencerminkan posisi tawar penyewa yang masih kuat di tengah prospek pertumbuhan yang moderat.

Menukil riset Colliers Indonesia, pada Kuartal II 2026, pasar perkantoran Jakarta masih menghadapi tantangan dengan tingkat kekosongan sekitar 3 juta meter persegi, bahkan hampir 60% dari jumlah tersebut dikontribusi oleh kawasan CBD.

“Ketersediaan ruang dalam jumlah besar tersebut menyebabkan kondisi pasar masih berpihak kepada penyewa,” ujar Ferry Salanto.

Akibatnya, kondisi ini mendorong pemilik gedung untuk menawarkan struktur sewa yang lebih fleksibel, periode bebas sewa, dukungan fit-out, serta berbagai insentif komersial lainnya.

Baca Juga: Menguak Tren Ruang Perkantoran Masa Depan: Fleksibel, Ramah Lingkungan, dan Berbasis Teknologi

Kendati tingkat kekosongan masih tinggi, Colliers mencatat rerata okupansi perkantoran di CBD mengalami pertumbuhan dan tercatat sekitar 76% per kuartal kedua tahun 2026.

Gedung perkantoran premium tetap menunjukkan kinerja yang lebih unggul, dengan okupansi sekitar 83%, mencerminkan kuatnya permintaan terhadap perkantoran berkualitas tinggi di Jakarta.

“Sementara itu, perlahan rerata tingkat hunian mulai mendekati 70% untuk wilayah diluar CBD,” ungkap Ferry.

Tren ini menunjukkan adanya pergeseran dalam prioritas penyewa. Di luar harga dan fleksibilitas sewa, penyewa kini semakin mempertimbangkan faktor kesiapan ruang kerja, aksesibilitas transportasi dan standar ESG.

Gedung-gedung yang mampu mempercepat proses relokasi dan mendukung keberlangsungan bisnis memiliki posisi yang lebih baik dalam menarik permintaan.

Baca Juga: Tren Flight to Green Menguat, Pasar Perkantoran CBD Jakarta Kian Selektif di 2026

Lebih lanjut, dia menuturkan, sisi pasok juga mendukung stabilisasi kondisi pasar perkantoran di Jakarta.

Dengan tidak adanya gedung baru yang selesai dibangun total pasokan perkantoran di kawasan CBD tetap berada di kisaran 7,4 juta meter persegi di Kuartal II 2026.

“Terbatasnya pasokan baru di CBD Jakarta dalam beberapa tahun ke depan diharapkan dapat memberikan kesempatan yang lebih besar bagi pasar untuk menyerap ruang kosong yang tersedia,” jelasnya.

Colliers Indonesia memperkirakan, permintaan ruang perkantoran di Jakarta akan terus meningkat hingga akhir 2026, terutama didukung oleh permintaan dari sektor logistik, energi, fintech, baik perusahaan lokal dan asing.

“Namun, kondisi pasar yang masih menguntungkan penyewa, pemulihan ke depan perlu menghadirkan fleksibilitas, aksesibilitas, keberlanjutan, dan efisiensi total biaya okupansi untuk lebih banyak menarik minat penyewa,” pungkas Ferry.

Redaksi@realestat.id

Simak Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News

Topik

Artikel Terkait