RealEstat.id (Jakarta) – Meski kondisi ekonomi global masih dirundung ketidakpastian, pasar properti residensial Australia justru memperlihatkan daya tahan yang semakin kuat.
Kondisi ini tak hanya disebabkan oleh tren pasar, namun juga didorong oleh hal yang lebih mendasar, di mana Australia saat ini menghadapi kekurangan pasokan hunian dalam skala besar.
Chandra Leonardi, Chief Executive Officer Capital Value International Group (CVIG) menilai, keadaan tersebut menciptakan peluang investasi jangka panjang yang semakin menarik bagi investor Indonesia yang ingin melakukan diversifikasi aset ke pasar internasional.
Dia menuturkan, pemerintah Australia melalui National Housing Accord menargetkan pembangunan 1,2 juta rumah baru hingga tahun 2029.
Baca Juga: Jadi Raja Properti di Australia, Iwan Sunito: Semua Berawal Dari Visi Ayah Saya
“Namun, berbagai tantangan seperti tingginya biaya konstruksi, keterbatasan tenaga kerja, serta lamanya proses perizinan membuat realisasi pembangunan masih belum mencapai target,” katanya, Senin (10/8/2026).
Di sisi lain, imbuh Chandra, pertumbuhan populasi Australia terus meningkat, didorong oleh program migrasi tenaga kerja terampil, mahasiswa internasional, serta migrasi permanen.
“Sydney dan Melbourne menjadi dua kota yang menerima arus migrasi terbesar, sehingga permintaan terhadap hunian maupun properti sewa diperkirakan akan tetap tinggi dalam jangka panjang,” katanya.
Data Australian Bureau of Statistics (ABS) juga menunjukkan nilai pasar properti residensial Australia telah mencapai sekitar AUD12,8 triliun, sementara CoreLogic Australia mencatat nilai hunian di Sydney masih menjadi yang tertinggi di Australia dengan median harga rumah melampaui AUD1,2 juta.
Baca Juga: Destinasi Wisata Ramah Muslim di Australia Barat Kian Diminati Turis Asal Indonesia
Sementara itu, tingkat kekosongan (vacancy rate) hunian di Sydney masih berada di kisaran 1% – 2%, yang menurut SQM Research, mencerminkan pasokan masih sangat terbatas.
“Fundamental pasar Australia saat ini sangat kuat. Populasi terus bertambah, sementara pembangunan hunian belum mampu mengimbangi pertumbuhan permintaan. Bagi investor jangka panjang, kondisi seperti ini merupakan peluang yang sangat menarik,” papar Chandra Leonardi.
Menurutnya, berbeda dengan fluktuasi nilai tukar maupun perubahan suku bunga yang bersifat siklus, kebutuhan terhadap hunian merupakan faktor fundamental yang akan terus mendorong pertumbuhan pasar properti Australia dalam jangka panjang.
“Nilai tukar bisa berubah, suku bunga bisa naik atau turun. Namun, kebutuhan masyarakat akan tempat tinggal akan terus ada,” terangnya. “Ketika permintaan terus meningkat sementara pasokan terbatas, properti yang berkualitas akan menjadi instrumen pembangun kekayaan dalam jangka panjang.”
Baca Juga: 6 Destinasi Wisata Perth Paling Favorit untuk Liburan Keluarga
Di saat yang sama, peta investasi asing di Australia juga mulai mengalami perubahan. Data terbaru Foreign Investment Review Board (FIRB) menunjukkan investor Indonesia mencatatkan nilai persetujuan investasi properti residensial sekitar AUD100 juta, menjadikan Indonesia sebagai salah satu kelompok investor terbesar dari Asia setelah China, Hong Kong, dan Taiwan.
Sementara itu, data Australian Taxation Office (ATO) menunjukkan, kepemilikan properti residensial oleh investor asal China mulai mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Sebaliknya, minat investasi dari negara-negara seperti Indonesia, India, Jepang, dan Vietnam terus meningkat.
Lebih lanjut, Chandra Leonardi, perubahan tersebut membuka peluang yang semakin besar bagi investor Indonesia.
“Pasar properti Australia kini menjadi jauh lebih beragam. Ketika dominasi investor tradisional mulai berkurang, investor Indonesia memiliki kesempatan yang lebih besar untuk memperoleh aset berkualitas di kawasan-kawasan premium Australia,” urainya.
Baca Juga: Indonesia Jadi Negara Pilihan Miliarder Australia dan Korea Selatan untuk Membeli Rumah
CVIG Jawab Peluang Pasar
Melihat potensi tersebut, Capital Value International Group (CVIG) terus mengembangkan proyek hunian premium di Sydney yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan pasar sekaligus memberikan nilai investasi jangka panjang.
Didirikan oleh pengusaha kelahiran Indonesia, Chandra Leonardi, CVIG merupakan salah satu pengembang properti berbasis di Australia yang secara khusus berfokus pada pengembangan hunian tapak (landed houses), non apartemen.
Proyek terbaru CVIG berlokasi di Roselands, kawasan berkembang yang berjarak sekitar 16 kilometer dari Central Business District (CBD) Sydney, dengan nilai investasi mencapai AUD16,5 juta di atas lahan seluas sekitar 2.000 meter persegi.
Untuk memastikan kualitas desain yang mampu bersaing di pasar premium Australia, CVIG menggandeng M.A.R.S Architecture & Interior Design Australia, firma arsitektur yang dikenal luas melalui berbagai proyek hunian mewah dan bangunan komersial prestisius di Australia.
Baca Juga: Lakukan Ekspansi ke Australia, Xavier Marks Diganjar ‘Indonesia Property Record’
“Nilai sebuah properti tidak hanya ditentukan oleh lokasinya. Kualitas desain, kenyamanan, dan keberlanjutan kawasan akan menjadi faktor utama yang menentukan nilai investasi di masa depan. Karena itu kami bekerja sama dengan arsitek terbaik Australia agar setiap proyek mampu memberikan nilai yang bertahan dalam jangka panjang,” jelas Chandra.
Menurut Chandra, investor Indonesia kini semakin matang dalam mengambil keputusan investasi luar negeri. Fokus mereka tidak lagi sekadar mengejar lokasi ikonik, melainkan mempertimbangkan faktor-faktor fundamental seperti pertumbuhan populasi, pembangunan infrastruktur, tingkat permintaan sewa, serta potensi kenaikan nilai aset.
Australia, khususnya Sydney, dinilai masih memenuhi seluruh indikator tersebut. Peluang investasi terbaik hampir selalu lahir dari perubahan fundamental, bukan dari euforia pasar. Krisis pasokan hunian yang sedang dihadapi Australia merupakan salah satu peluang struktural yang sangat jarang terjadi.
“Kami percaya, saat ini adalah momentum yang tepat bagi investor Indonesia untuk mengambil bagian dalam pertumbuhan pasar properti Australia,” pungkas Chandra Leonardi.
Simak Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News








