Lompat ke konten utama

RealEstat.id

Pasar Apartemen Sewa Jakarta Mulai Pulih, Ekspatriat Asia Timur Mendominasi

Di Semester I 2026, pasokan pasar apartemen sewa di Jakarta belum bertambah secara signifikan, lantaran sejumlah proyek menunda proses peluncuran.
apartemen sewa jakarta ekspatriat korea china jepang realestat.id dok
Ilustrasi Foto: Realestat.id

RealEstat.id (Jakarta) – Pasar apartemen sewa di Jakarta mulai menunjukkan pemulihan setelah melewati periode tekanan akibat pandemi.

Meski demikian, kinerja sektor ini masih belum sepenuhnya kembali ke level sebelum pandemi, sehingga pelaku industri masih menghadapi tantangan untuk mendorong tingkat hunian dan permintaan.

Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia, Syarifah Syaukat mengatakan, apartemen sewa merupakan segmen properti yang cukup spesifik atau niche segment.

Pasar tersebut di Jakarta umumnya dihuni oleh ekspatriat dan klien korporasi yang membutuhkan hunian untuk kepentingan pekerjaan maupun penugasan dalam periode tertentu.

“Pasar apartemen sewa merupakan sektor dengan niche segment. Di Jakarta, penghuni apartemen sewa umumnya didominasi oleh ekspatriat dan corporate company client,” ujar Syarifah Syaukat.

Baca Juga: Apartemen Sewa Jakarta Bangkit, Ekspatriat dan Korporasi Jadi Motor Pemulihan

Menurutnya, pasar apartemen sewa pernah mencapai masa kejayaan pada 2012-2013. Saat itu, tingkat keterisian apartemen sewa di Jakarta mampu mencapai sekitar 86%, sementara pertumbuhan harga sewa tercatat mencapai dua digit.

Kondisi pasar saat ini memang menunjukkan tren perbaikan, tetapi belum menyamai performa pada periode tersebut.

Berdasarkan riset Knight Frank di semester I 2026, total pasokan apartemen sewa Jakarta tercatat sebanyak 9.843 unit dan masih relatif tetap.

Sementara itu, rata-rata tingkat penyewaan berada di level 67,6%. Dari sisi harga, performa apartemen servis menunjukkan perkembangan yang lebih positif.

Rata-rata harga sewa tipe serviced apartment mengalami kenaikan sekitar 2% secara tahunan (year-on-year/yoy). Sebaliknya, harga sewa apartemen non-servis terkoreksi sekitar 1%.

Baca Juga: Pasar Apartemen Sewa di Jakarta: Pasokan Didominasi Serviced Apartment

Di tengah proses pemulihan pasar, ekspatriat dari Asia Timur menjadi kelompok yang mendominasi penghuni apartemen sewa di Jakarta, baik di kawasan Central Business District (CBD) maupun Prime Non-CBD.

Selain Asia Timur, ekspatriat asal Eropa, Amerika Serikat, dan Timur Tengah juga turut menjadi bagian dari pasar apartemen sewa Jakarta.

Dari sisi lokasi, kawasan CBD masih menjadi pilihan utama. Tingkat hunian apartemen sewa di submarket CBD tercatat lebih tinggi dibandingkan kawasan lainnya.

Hal ini memperlihatkan bahwa kedekatan dengan pusat bisnis, akses transportasi, serta berbagai fasilitas perkotaan masih menjadi pertimbangan penting bagi penyewa.

Baca Juga: Knight Frank: Ekspatriat Asia Dominasi Permintaan Apartemen Sewa di Jakarta

Memasuki awal 2026, pasar apartemen sewa juga menghadapi dinamika dari sisi pasokan. Sejumlah proyek menunda proses peluncuran sehingga belum terdapat tambahan stok yang signifikan sepanjang semester pertama.

Namun, pasokan baru diperkirakan kembali masuk menjelang akhir tahun. Secara keseluruhan, terdapat sedikitnya 872 unit apartemen baru yang diproyeksikan masuk ke pasar hingga 2028.

Country Head Knight Frank Indonesia, Willson Kalip mengatakan, bertambahnya pilihan hunian premium membuat persaingan pasar apartemen sewa semakin ketat.

Dalam kondisi pasar yang masih berada pada fase softening market, menurutnya, keunggulan properti tidak lagi hanya ditentukan oleh kualitas fisik bangunan. Pengelola juga perlu menghadirkan pengalaman tinggal yang berbeda melalui layanan inovatif dan fleksibel.

Baca Juga: Pasar Apartemen Sewa di Jakarta Merambah ke Wilayah Penyangga

“Persaingan di pasar apartemen sewa semakin ketat seiring bertambahnya pilihan hunian premium di Jakarta. Keunggulan tidak lagi hanya ditentukan oleh kualitas fisik properti, tetapi juga oleh kemampuan pengelola menghadirkan pengalaman tinggal (living experience) yang berbeda melalui layanan yang inovatif, fleksibel, dan berorientasi pada kebutuhan penyewa,” kata Willson.

Ia menambahkan, perluasan target pasar dan kolaborasi dengan sektor kreatif, pariwisata, serta ekosistem bisnis dapat menjadi strategi untuk menciptakan sumber permintaan baru.

Dengan okupansi yang mulai pulih, harga sewa serviced apartment yang menguat, dan pasokan baru yang masuk secara bertahap, pasar apartemen sewa Jakarta masih memiliki prospek pertumbuhan.

Namun, inovasi layanan dan kemampuan memahami kebutuhan penyewa akan menjadi kunci untuk memenangkan persaingan ke depan.

Redaksi@realestat.id

Simak Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News

Topik

Artikel Terkait