Lompat ke konten utama

RealEstat.id

Pasar Perhotelan Jakarta Melemah, Tertekan Efisiensi Anggaran Pemerintah

Kebijakan efisiensi anggaran perjalanan dinas serta penyelenggaraan rapat dan acara, turut memberikan tekanan terhadap kinerja industri perhotelan di Jakarta.
Hotel Perhotelan Jakarta Jabodetabek Kuartal I II III IV 2025 2026 2027 realestat.id dok (1)
Foto: Dok. Realestat.id

RealEstat.id (Jakarta) – Pasar perhotelan Jakarta pada semester I 2026 masih menghadapi tantangan dari sisi permintaan, di tengah terbatasnya penambahan pasokan dan berlanjutnya tren rebranding maupun pergantian operator hotel.

Kebijakan efisiensi anggaran pemerintah dan badan usaha milik negara (BUMN), terutama pembatasan perjalanan dinas serta penyelenggaraan rapat dan acara, turut memberikan tekanan terhadap kinerja industri perhotelan di Ibu Kota.

Arief Rahardjo, Director of Strategic Consulting Cushman & Wakefield Indonesia mengatakan, kondisi tersebut terutama dirasakan oleh hotel-hotel yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap kegiatan yang berkaitan dengan instansi pemerintah dan BUMN.

Dari sisi pasokan, hanya terdapat satu hotel baru yang mulai beroperasi di Jakarta sepanjang semester I 2026, yakni Mercure Jakarta Grogol dengan kapasitas 95 kamar. Hotel yang berada di segmen menengah atas tersebut sebelumnya dikenal sebagai Ibis Budget Jakarta Daan Mogot.

Baca Juga: Pasar Lesu, Hotel di Jakarta dan Bali Pilih Strategi Rebranding dan Peningkatan Layanan

Di sisi lain, pasar perhotelan Jakarta juga mengalami pengurangan pasokan akibat penutupan resmi Hotel Sultan di kawasan Senayan, Jakarta Pusat.

“Penutupan tersebut terjadi menyusul operasi pengosongan lahan yang dilakukan pemerintah pada Juni 2026,” kata Arief Rahardjo.

Dengan perkembangan tersebut, total akumulasi pasokan kamar hotel di Jakarta untuk segmen menengah hingga mewah mencapai 43.749 kamar pada akhir semester I 2026.

Berdasarkan klasifikasinya, hotel bintang 3 menyumbang sekitar 27% dari total pasokan, diikuti hotel bintang 4 sebesar 41%, hotel bintang 5 sebesar 21%, dan kategori mewah sebesar 11%.

“Terbatasnya pertumbuhan pasokan tersebut menunjukkan bahwa dinamika pasar perhotelan Jakarta pada semester I 2026 lebih banyak dipengaruhi oleh perubahan struktur operasional dan kondisi permintaan dibandingkan ekspansi jumlah kamar baru,” terangnya.

Baca Juga: Wisatawan Asing Meningkat, Perhotelan Indonesia Pulih pada September: SiteMinder

Efisiensi Anggaran Tekan Permintaan Hotel

Dari sisi permintaan, kebijakan efisiensi anggaran yang diterapkan sejumlah instansi pemerintah dan BUMN menjadi salah satu faktor utama yang menekan kinerja hotel Jakarta.

Pembatasan perjalanan dinas serta kegiatan rapat dan acara berdampak langsung terhadap permintaan kamar tamu sekaligus ruang pertemuan.

Data Cushman & Wakefield memperlihatkan, tekanan paling terasa pada hotel bintang 3 dan bintang 4 yang selama ini memiliki eksposur cukup besar terhadap segmen pemerintahan dan BUMN.

“Kedua segmen hotel tersebut mencatat penurunan tingkat hunian sekitar 2,6% sepanjang semester I 2026,” ungkap Arief Rahardjo.

Meski demikian, Jakarta masih memiliki daya tarik yang cukup kuat bagi pelancong bisnis perorangan atau frequent individual traveler (FIT) serta segmen korporat.

Kondisi ini terlihat dari kinerja hotel bintang 5 dan kategori mewah yang justru mencatat peningkatan tingkat hunian sebesar 4,5%.

Baca Juga: Optimistis Bisnis Perhotelan Tumbuh di 2026, Metland Siapkan Dua Hotel Baru dan Strategi Rebranding

Menurut Arief, segmen hotel kelas atas relatif lebih terlindungi dari dampak kebijakan efisiensi anggaran pemerintah. Permintaan dari pelancong bisnis dan korporasi menjadi salah satu penopang utama kinerja hotel di segmen tersebut.

Secara umum, tingkat hunian hotel di Jakarta juga memiliki korelasi yang kuat dengan jumlah kedatangan penumpang melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Namun, terdapat pola musiman yang cukup khas pada awal tahun dan selama bulan Ramadan.

Pada periode tersebut, tingkat hunian hotel cenderung tetap rendah meskipun volume kedatangan penumpang ke Jakarta relatif tinggi.

Fenomena serupa kembali terlihat selama Ramadan 2026, ketika rata-rata tingkat hunian hotel bulanan di Jakarta turun menjadi sekitar 42% pada Maret.

Angka tersebut berada di bawah tingkat hunian year-to-date (YTD) yang mencapai 58% sepanjang semester I 2026.

“Kondisi ini menunjukkan bahwa tingginya mobilitas penumpang tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan permintaan kamar hotel, terutama ketika dipengaruhi faktor musiman dan perubahan pola perjalanan,” jelasnya.

Baca Juga: Industri Perhotelan Kian Dinamis, Parador Hotels & Resorts Hadirkan Solusi Hospitality dan MICE

Harga Kamar Hotel Jakarta Cenderung Stagnan

Tekanan terhadap permintaan kamar dan ruang pertemuan juga memberikan dampak terhadap kinerja harga kamar hotel.

Dengan tingkat hunian yang cenderung tertekan, Harga Rata-rata Kamar atau Average Room Rate (ARR) di Jakarta sepanjang semester I 2026 relatif mengalami stagnasi.

ARR per malam tercatat sekitar Rp510.000 untuk hotel bintang 3, Rp878.500 untuk hotel bintang 4, Rp1.849.500 untuk hotel bintang 5, dan Rp2.419.800 untuk kategori hotel mewah.

Stagnasi harga kamar tersebut mencerminkan strategi operator hotel dalam menjaga daya saing di tengah kondisi pasar yang belum sepenuhnya pulih.

Ketika permintaan dari segmen tertentu melemah, hotel perlu menjaga keseimbangan antara tingkat hunian dan harga kamar agar kinerja pendapatan tetap optimal.

Baca Juga: Kebijakan Pemerintah Sukses Genjot Kinerja Hotel Bintang 3 di Jakarta

Pasar Hotel Jakarta Masih Hadapi Tantangan hingga Akhir 2026

Memasuki paruh kedua 2026, Cushman & Wakefield Indonesia memperkirakan pasar perhotelan Jakarta masih menghadapi sejumlah tantangan.

Kebijakan instansi pemerintah untuk mengurangi biaya perjalanan dinas, rapat, dan kegiatan lainnya berpotensi terus memberikan tekanan terhadap hotel yang selama ini mengandalkan segmen tersebut.

Di saat yang sama, ketegangan geopolitik yang berkepanjangan berpotensi memengaruhi kondisi makroekonomi Indonesia.

Ketidakpastian tersebut dapat meningkatkan risiko pembatalan perjalanan bisnis maupun kegiatan Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE), baik dari pasar domestik maupun internasional.

“Dalam menghadapi kondisi tersebut, operator hotel dituntut untuk mempercepat diversifikasi pasar dan melakukan inovasi terhadap produk maupun layanan yang ditawarkan,” kata Arief.

Baca Juga: Tarif Hotel Bintang 4 di Jakarta Masih Terlalu Rendah, Idealnya Berapa?

Hotel yang sebelumnya memiliki ketergantungan tinggi terhadap tamu dari instansi pemerintah dan BUMN mulai memperluas target pasar dengan menyasar pelancong bisnis perorangan, perusahaan swasta, asosiasi profesi, serta komunitas.

Strategi tersebut juga diikuti dengan penguatan kerja sama bersama platform agen perjalanan daring atau Online Travel Agent (OTA).

Kehadiran OTA dinilai semakin penting untuk membantu hotel menjangkau pasar yang lebih luas sekaligus meningkatkan fleksibilitas dalam strategi pemasaran dan distribusi kamar.

Dengan terbatasnya tambahan pasokan dan tekanan terhadap permintaan dari segmen pemerintah, persaingan pasar perhotelan Jakarta pada semester II 2026 diperkirakan akan semakin bergantung pada kemampuan masing-masing operator dalam membaca perubahan perilaku wisatawan dan kebutuhan pasar.

Diversifikasi sumber permintaan, penguatan segmen korporat dan FIT, serta pengembangan pasar MICE nonpemerintah akan menjadi faktor penting dalam menjaga kinerja industri perhotelan Jakarta hingga akhir 2026.

Redaksi@realestat.id

Simak Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News

Topik

Artikel Terkait