Lompat ke konten utama

RealEstat.id

Dokter Primaya Hospital Tangerang Kembangkan Alat AI untuk Deteksi Dini Gagal Jantung

Alat AI deteksi gagal jantung NAVI-HF mencatat akurasi 86% jika dibandingkan dengan pemeriksaan Lung Ultrasound sebagai standar acuan.
Dr. dr. Rony M. Santoso, SpJP, SubSp.K.I(K), FIHA yang mengembangkan teknologi AI untuk gagal jantung-RealEstat.id
Dr. Rony M. Santoso memperkenalkan NAVI-HF, alat berbasis AI untuk mendeteksi kongesti paru pada pasien gagal jantung di Primaya Hospital Tangerang. (Sumber: Istimewa)

RealEstat.id (Jakarta) – Gagal jantung masih menjadi salah satu penyebab utama tingginya angka kematian dan rawat ulang pasien di Indonesia.

Menjawab tantangan tersebut, Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Primaya Hospital Tangerang, mengembangkan Novel Auscultation Device of Artificial Intelligence for Heart Failure (NAVI-HF).

NAVI-HF merupakan sebuah alat berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang membantu mendeteksi risiko perburukan gagal jantung secara lebih cepat dan objektif.

Teknologi AI untuk deteksi kesehatan jantung itu dikembangkan oleh Dr. dr. Rony M. Santoso, SpJP, SubSp.K.I(K), FIHA.

Baca Juga: Primaya Hospital Bekasi Barat Luncurkan Wellness Center, Cegah Penyakit Kronis Sejak Dini

Bantu Deteksi Penumpukan Cairan di Paru

NAVI-HF Alat AI deteksi gagal jantung-RealEstat.id
NAVI-HF Alat AI deteksi gagal jantung. (Sumber: Istimewa)

Berdasarkan data Asian-HF Registry, Indonesia menempati posisi kedua dengan jumlah kasus gagal jantung terbanyak di Asia setelah Tiongkok.

Angka kematian dalam satu tahun mencapai 34,1%, sementara sekitar 30% pasien harus kembali mendapatkan perawatan akibat kondisi yang memburuk.

Salah satu penyebab tingginya angka tersebut adalah masih adanya residual pulmonary congestion atau penumpukan cairan pada bagian paru yang belum terdeteksi saat pasien diperbolehkan pulang.

Kondisi ini sering kali sulit terdeteksi melalui pemeriksaan stetoskop konvensional.

Sebagai solusi, NAVI-HF dirancang untuk merekam suara rongga dada dari lima titik pemeriksaan selama sekitar satu menit.

Data suara tersebut kemudian dianalisis menggunakan algoritma AI untuk mengidentifikasi tanda-tanda kongesti paru yang berpotensi meningkatkan risiko perburukan gagal jantung.

Baca Juga: Catat Pertumbuhan Positif, Primaya Hospital Group Bidik EBITDA Tumbuh 25% pada 2026 lewat Ekspansi Rumah Sakit

Akurasi Mencapai 86%

Hasil penelitian terhadap 246 pasien gagal jantung akut menunjukkan NAVI-HF memiliki performa diagnostik yang menjanjikan.

Alat ini mencatat akurasi sebesar 86%, sensitivitas 91%, dan spesifisitas 82% jika dibandingkan dengan pemeriksaan Lung Ultrasound sebagai standar acuan.

Penelitian lanjutan selama enam bulan juga memperlihatkan bahwa pasien dengan hasil pemeriksaan NAVI-HF positif memiliki risiko 1,6 kali lebih tinggi mengalami rawat ulang akibat gagal jantung dibandingkan pasien dengan hasil negatif.

Menurut dr. Rony, NAVI-HF tidak dirancang untuk menggantikan peran dokter.

Akan tetapi menjadi alat bantu dalam mengidentifikasi pasien berisiko tinggi agar penanganan dapat dilakukan lebih dini.

“Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan gagal jantung adalah memastikan kondisi pasien benar-benar stabil sebelum pulang dari rumah sakit,” terang dr. Rony melalui keterangan tertulis, Jumat (17/07/2026).

NAVI-HF, lanjutnya, dibuat untuk membantu dokter mengidentifikasi pasien yang masih berisiko mengalami perburukan melalui alat yang sederhana, portabel, dan didukung teknologi artificial intelligence.

Baca Juga: Dijuluki ‘Mother of Diseases’, Ini Gejala dan Cara Penanganan Diabetes

Berpotensi Mendukung Telemedicine

Ke depan, alat AI deteksi gagal jantung itu juga memiliki potensi untuk diterapkan pada layanan home-based monitoring dan telemedicine.

Dengan demikian, pemantauan pasien gagal jantung dapat dilakukan secara lebih berkelanjutan, termasuk setelah pasien kembali ke rumah.

Dr. Rony berharap inovasi tersebut mampu mendukung deteksi dini, meningkatkan kualitas pengambilan keputusan klinis, serta menekan angka rawat ulang akibat gagal jantung.

Pemanfaatan AI dalam NAVI-HF menjadi contoh bagaimana teknologi dapat mendukung praktik kedokteran modern.

Dengan diagnosis yang lebih cepat, objektif, dan tepat sasaran, inovasi ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas hidup pasien.

Redaksi@realestat.id

Simak Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News

Topik

Artikel Terkait