RealEstat.id

Mobilitas Jadi Pertimbangan Utama Gen Z dalam Menentukan Lokasi Hunian

Kedekatan hunian dengan jaringan transportasi publik kini semakin dipandang sebagai solusi mobilitas yang efektif bagi Gen Z di perkotaan.

Mobilitas Transportasi Memilih Rumah Hunian Gen Z realestat.id dok
Foto: Dok. Realestat.id

RealEstat.id (Jakarta) – Bagi generasi muda urban saat ini, memilih hunian tidak lagi sekadar soal tempat beristirahat. Lebih dari itu, lokasi tempat tinggal kini menjadi faktor penting yang menentukan efisiensi mobilitas sehari-hari.

Kebutuhan tersebut semakin terasa di Jakarta sebagai pusat aktivitas ekonomi dan pekerjaan. Tingginya tingkat kemacetan membuat waktu perjalanan menjadi tidak ideal, terutama bagi Gen Z yang beraktivitas di kota ini. Kondisi tersebut berdampak langsung pada kualitas hidup mereka.

Momentum Hari Angkutan Nasional yang diperingati setiap 24 April menjadi pengingat pentingnya integrasi antara hunian dan akses transportasi umum.

Baca Juga: Tips Gen Z Beli Rumah Pertama: Cara Menabung, Investasi, dan Pilih KPR

Kedekatan hunian dengan jaringan transportasi publik kini semakin dipandang sebagai solusi mobilitas yang efektif bagi Gen Z yang tinggal di perkotaan.

Dian Paskalis, Country Director of Growth and VP of Online Marketing Cove mengatakan, sebanyak 6 dari 10 Gen Z di Jakarta mempertimbangkan untuk pindah hunian semata demi mengurangi durasi perjalanan harian mereka.

Angka ini menunjukkan betapa besar pengaruh mobilitas terhadap kualitas hidup anak muda, terutama di kota padat seperti Jakarta.

Konektivitas kini bukan lagi sekadar nilai tambah, tetapi sudah menjadi faktor penentu dalam memilih hunian,” tutur Dian Paskalis lebih lanjut.

Baca Juga: Kepemilikan Hunian jadi Solusi Finansial untuk Gen Z ditengah Himpitan Sandwich Generation

Mobilitas Jadi Prioritas Utama dalam Memilih Hunian

Bagi Gen Z yang bekerja atau beraktivitas di Jakarta dan sekitarnya, efisiensi perjalanan dan pengelolaan pengeluaran menjadi dua prioritas utama dalam kehidupan sehari-hari.

Hal ini tercermin dari preferensi mereka saat mencari hunian. Survei menunjukkan bahwa dua faktor terbesar yang memengaruhi keputusan menyewa hunian adalah jarak ke kantor (40%) dan keterjangkauan harga (38%).

Kondisi serupa juga terlihat dari para penghuni properti co-living Cove. Mayoritas dari mereka menyebut lokasi yang kurang strategis sebagai tantangan terbesar dalam mencari tempat tinggal.

Lokasi hunian memiliki dampak langsung terhadap lamanya waktu perjalanan sekaligus besarnya biaya transportasi yang harus dikeluarkan.

Baca Juga: Pentingnya Literasi Finansial Untuk Tingkatkan Pemasaran Properti

Di sisi lain, hampir separuh Gen Z di Jakarta (sekitar 47%) menilai waktu tempuh ideal menuju kantor berada di kisaran 15 hingga 30 menit. Namun, durasi tersebut sering kali sulit dicapai pada jam produktif.

Kemacetan lalu lintas, kebijakan ganjil genap, hingga skema dynamic pricing pada layanan taksi dan ojek daring membuat banyak pekerja muda harus memilih antara menyewa hunian lebih mahal di pusat kota, berebut transportasi daring, atau menghabiskan lebih banyak waktu di perjalanan.

Dalam situasi seperti ini, hunian yang berada dekat dengan transportasi umum menjadi pilihan yang semakin relevan.

Selain biaya transportasi yang lebih terjangkau, waktu perjalanan juga cenderung lebih konsisten dan dapat diprediksi, sehingga membantu mengurangi tekanan mobilitas harian generasi muda.

Baca Juga: Jadi Pembeli Properti Potensial, Generasi Milenial dan Gen Z Masih Hadapi Kendala

Hunian Dekat Transportasi Umum Dorong Kinerja Co-Living

Tren pengembangan hunian berbasis transportasi publik atau Transit Oriented Development (TOD) tidak hanya memberikan manfaat bagi masyarakat perkotaan, tetapi juga berdampak positif pada sektor properti, termasuk industri co-living.

Data dari Cove menunjukkan bahwa lokasi strategis menjadi salah satu pertimbangan utama penyewa ketika memilih hunian, setelah fasilitas bangunan.

Dari responden yang memprioritaskan faktor lokasi, lebih dari sepertiga secara khusus memilih hunian yang dekat dengan akses transportasi umum.

Hunian co-living yang berada di dekat jaringan transportasi publik seperti KRL, MRT, LRT, maupun TransJakarta juga cenderung memiliki nilai sewa lebih tinggi. Peningkatan harga sewa bahkan bisa mencapai sekitar 5% hingga 10%.

Baca Juga: Usung Konsep Flexible-Living, Cove Kembangkan Produk Revolusioner dan Inovatif

Kenaikan harga tersebut dapat menjadi lebih signifikan jika hunian berada dalam radius kurang dari 500 meter dari titik transportasi umum, dengan tetap mempertimbangkan kualitas fasilitas bangunan.

Sebaliknya, minat penyewa cenderung menurun jika jarak hunian ke transportasi publik melebihi satu kilometer.

Menurut Dian, di samping mendukung mobilitas generasi muda yang tinggi, pengembangan hunian yang berfokus pada aksesibilitas transportasi umum juga berkontribusi pada peningkatan performa sektor properti, khususnya co-living.

“Properti Cove yang memiliki waktu tempuh kurang dari 15 menit berjalan kaki ke transportasi umum mencatat tingkat okupansi rata-rata di atas 80%, dengan permintaan yang didominasi pekerja dan pelajar Gen Z,” tutupnya.

Redaksi@realestat.id

Simak Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News

Topik

Artikel Terkait