RealEstat.id (Jakarta) – Pasar perumahan nasional menunjukkan kondisi yang relatif stabil pada akhir 2025 di tengah penyesuaian daya beli masyarakat dan perubahan preferensi terhadap hunian.
Permintaan properti masih terjaga, terutama pada segmen rumah kecil dan menengah, sementara pasar sewa mulai memainkan peran yang semakin signifikan.
Gambaran tersebut tercermin dari hasil riset terbaru yang dirilis oleh perusahaan teknologi properti Pinhome dalam Pinhome Home Sell Index (PHSI) untuk Kuartal IV 2025.
Secara nasional, Indeks Harga Jual Rumah pada kuartal IV 2025 tercatat naik tipis sebesar 0,4% dibandingkan kuartal III 2025.
Baca Juga: Konflik Iran Vs AS-Israel Memanas, Pasar Properti Indonesia Terancam Lesu? Begini Analisa Colliers
Pinhome mencatat, kenaikan tahunan dibandingkan periode yang sama pada 2024 juga berada di level yang sama, yakni 0,4%.
Angka ini menunjukkan pasar perumahan nasional berada dalam kondisi yang relatif seimbang di tengah dinamika permintaan, penyesuaian daya beli, serta perkembangan ekonomi di berbagai daerah.
Menurut CEO dan Founder Pinhome, Dayu Dara Permata, segmen rumah kecil dan menengah masih menjadi penopang utama pasar properti nasional.
“Segmen menengah dan kecil tetap jadi favorit masyarakat, sementara rumah besar mengalami penurunan yang berkaitan dengan kecenderungan konsumen menunda pembelian atau beralih ke opsi sewa di kota inti, serta peningkatan inventori di beberapa wilayah komuter,” ujarnya.
Baca Juga: Di Tengah Gejolak Global, Pasar Properti Indonesia Diproyeksikan Rebound di 2026
Secara tahunan, rumah berukuran kecil mencatat pertumbuhan paling kuat. Rumah tipe kecil (≤54) dan menengah awal menunjukkan daya tahan yang lebih baik dibandingkan segmen lain.
Riset Pinhome mencatat:
• Rumah tipe kecil mencatat pertumbuhan sekitar 0,8% secara tahunan.
• Rumah tipe 55–120 naik 0,5%.
• Rumah tipe 121–200 tumbuh 0,3%.
• Rumah tipe besar (≥201) mengalami koreksi tipis sekitar -0,9%.
Kondisi ini menunjukkan perubahan preferensi masyarakat yang lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan pembelian properti bernilai besar.
Banyak konsumen juga mulai mempertimbangkan opsi sewa, khususnya di kota-kota inti dengan mobilitas tinggi.
Baca Juga: Tren Pasar Properti 2026: Dari Lapangan Padel Hingga Ekspansi Pergudangan
Pergerakan Harga Rumah di Jakarta dan Sekitarnya
Di wilayah Jakarta, pergerakan harga rumah menunjukkan dinamika yang berbeda di tiap kawasan.
Di Jakarta Utara, penurunan harga terjadi pada segmen menengah dan besar di kawasan Tanjung Priok dan Cilincing. Rumah tipe 55–120 di Tanjung Priok turun sekitar 5%, sementara tipe 121–200 turun 3%.
Penurunan ini dipengaruhi meningkatnya kekhawatiran masyarakat terhadap potensi banjir rob. Meski demikian, rumah tipe kecil di kawasan tersebut masih tumbuh sekitar 3%.
Di Jakarta Barat, kawasan Kembangan mencatat kenaikan harga rumah tipe kecil sebesar 3% karena harga yang lebih kompetitif.
Sementara di Kalideres, rumah tipe 121–200 tumbuh sekitar 2% berkat dukungan konektivitas transportasi dan kedekatannya dengan Bandara Soekarno-Hatta.
Baca Juga: MRT Jadi Katalis, Pasar Properti Jabodetabek Diproyeksikan Tangguh di 2026
Di Jakarta Pusat, kawasan Kemayoran menunjukkan penguatan yang lebih merata. Rumah tipe besar dan tipe menengah awal sama-sama naik sekitar 3%, sementara tipe kecil naik 2%.
Meski demikian, di Johar Baru, sebagian besar segmen mengalami koreksi, khususnya pada rumah kecil dan menengah.
Sementara itu di Jakarta Timur, rumah tipe 121–200 di Ciracas dan Cakung masing-masing naik 3% dan 2%, didorong peningkatan akses dan pembangunan infrastruktur. Sebaliknya, rumah tipe 55–120 di Kramat Jati turun sekitar 3% akibat gangguan aktivitas ekonomi lokal.
Di Jakarta Selatan, koreksi selektif terjadi pada rumah tipe kecil di Jagakarsa dan Pasar Minggu dengan penurunan sekitar 2%. Hal ini mencerminkan sikap pembeli yang lebih berhati-hati di tengah penyesuaian daya beli.
Baca Juga: Kinerja Penjualan Solid, Begini Peta Perumahan Tapak Jabodetabek di 2026
Bodetabek Masih Menjadi Alternatif Hunian
Di kawasan penyangga Jakarta seperti Bogor, Bekasi, dan Tangerang, pergerakan harga rumah juga menunjukkan penyesuaian terbatas.
Berdasarkan catatan Pinhome, rumah tipe kecil di Kota Tangerang naik sekitar 2%, sementara di Serang justru turun sekitar 3%.
Pada segmen rumah besar, Kota Bogor mencatat kenaikan 3%, sedangkan Kabupaten Bogor dan Kabupaten Bekasi masing-masing mengalami koreksi sekitar 3% dan 2%.
Penyesuaian ini dipengaruhi oleh meningkatnya inventori rumah dengan label penjualan mendesak pada semester kedua 2025, sehingga memicu penyesuaian harga secara selektif sesuai karakter pasar di tiap wilayah.
Baca Juga: Kehadiran Akses Tol Pacu Transformasi Township Jadi Pusat Pertumbuhan Ekonomi Baru
Dinamika Pasar Perumahan di Daerah Lain
Di luar wilayah Jakarta dan sekitarnya, dinamika pasar hunian juga bervariasi di berbagai daerah. Di Jawa Barat, rumah tipe besar di Kabupaten Bandung dan Kota Cimahi turun sekitar 3% karena meningkatnya perhatian terhadap risiko lingkungan serta kebijakan moratorium perumahan di beberapa kawasan.
Sementara itu di Denpasar, harga rumah relatif stabil dengan kenaikan sekitar 2% pada segmen tipe 121–200. Kenaikan ini didorong aktivitas ekonomi dan pariwisata yang tetap tinggi di Bali.
Di wilayah Nusa Tenggara Barat, pasar hunian di Mataram dan Lombok Barat cenderung stagnan di seluruh tipe rumah, mencerminkan stabilitas ekonomi daerah.
Di Sumatera, kota Palembang mencatat kenaikan harga rumah tipe kecil sebesar 3% dan tipe 121–200 sebesar 2%. Sementara di Pekanbaru, rumah tipe 55–120 tumbuh sekitar 3% seiring pemulihan aktivitas ekonomi setelah periode cuaca ekstrem.
Di Kalimantan, kota Balikpapan mencatat kenaikan sekitar 2% pada rumah tipe menengah, sementara rumah tipe besar di Samarinda juga naik 2%. Di sisi lain, koreksi terbatas terjadi di Pontianak dan Banjarmasin pada segmen rumah tipe 121–200.
Baca Juga: Kepemilikan Rumah jadi Solusi Finansial untuk Gen Z ditengah Himpitan Sandwich Generation
Sementara di kawasan timur Indonesia, penguatan selektif terjadi di Manado dengan kenaikan 2% pada rumah tipe besar, didorong dinamika ekonomi kreatif kota.
Di Ambon, pasar hunian relatif stabil dengan penurunan tipis sekitar 3% pada tipe 55–120 akibat tambahan pasokan rumah dari program hunian terjangkau.
Adapun di Jayapura, rumah tipe besar mengalami penurunan sekitar 2% seiring fokus pembangunan rumah terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
Dayu Dara mengatakan, secara keseluruhan, stabilitas pasar perumahan nasional pada akhir 2025 menunjukkan bahwa sektor properti masih memiliki daya tahan yang kuat.
“Permintaan terhadap hunian yang lebih terjangkau serta meningkatnya minat pada pasar sewa diperkirakan akan terus membentuk arah pasar properti Indonesia dalam beberapa tahun ke depan,” tutupnya.
Simak Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News








