RealEstat.id (Jakarta) – Tren ritel global memasuki babak baru. Fenomena Retail Renaissance masih berlanjut dan menunjukkan daya tahan yang semakin kuat, meski dibayangi perlambatan kinerja makroekonomi global.
Dalam konteks ini, ukuran pusat perbelanjaan bukan lagi menjadi penentu utama keberhasilan. Relevansi terhadap kebutuhan dan perilaku konsumen justru menjadi faktor kunci yang menentukan produktivitas dan nilai aset ritel.
Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia, Syarifah Syaukat, menegaskan bahwa lanskap ritel saat ini tengah mengalami transformasi signifikan.
“Outdoor is the new indoor menjadi gambaran nyata perubahan konsep pusat perbelanjaan modern,” terangnya.
Baca Juga: Ekspansi Korporasi Dorong Pasar Properti Jakarta di 2026, Ritel dan Hotel Ikut Terkerek
Konsumen kini lebih menyukai ruang terbuka, area komunal, serta konsep lifestyle yang mengedepankan pengalaman (experience-led retail).
“Di Jakarta, sektor ritel terus beradaptasi terhadap perubahan preferensi pasar. Pusat perbelanjaan dengan desain inovatif, ruang interaktif, serta tenant mix yang kompetitif terbukti menjadi pemenang dalam fase pemulihan pascapandemi,” kata Syarifah.
Data Knight Frank Indonesia menunjukkan bahwa gerai makanan dan minuman (FnB) tercatat sebagai sektor paling ekspansif sepanjang 2025.
Sejumlah brand internasional seperti Chagee, Sushiro, dan Sancha memperluas penetrasi pasar mereka di Jakarta, memperkuat daya tarik pusat perbelanjaan premium.
Baca Juga: Tren Pasar Properti 2026: Dari Lapangan Padel Hingga Ekspansi Pergudangan
Memasuki akhir 2025, performa ritel masih menunjukkan variasi berdasarkan segmentasi pasar. Ritel premium relatif solid, ditopang masuknya tenant baru dari sektor FnB, fashion, beauty, lifestyle, hingga sportswear.
Sebaliknya, ritel kelas menengah ke bawah masih menghadapi tekanan, memicu tren flight to quality, yakni pergeseran preferensi tenant dan pengunjung menuju mal dengan kualitas bangunan, lokasi strategis, serta kurasi tenant yang lebih unggul.
Secara kinerja, Semester II 2025 mencatat sejumlah indikator positif. Total pasokan mal di Jakarta meningkat sekitar 1% secara tahunan menjadi 4.377.690 meter persegi, dengan tambahan dua mal baru di Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan.
Syarifah Syaukat mengatakan, rata-rata tingkat okupansi ritel Jakarta berada di angka 77,9%, naik tipis dibanding awal tahun. Sementara itu, rata-rata harga sewa mengalami kenaikan sekitar 1,1% secara tahunan.
Baca Juga: Di Tengah Gejolak Global, Pasar Properti Indonesia Diproyeksikan Rebound di 2026
“Ke depan, setidaknya tiga proyek ritel baru dijadwalkan masuk hingga 2026, terutama di Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat. Hal ini menandakan optimisme pelaku pasar terhadap prospek sektor ritel,” ungkapnya.
Sementara itu, Country Head Knight Frank Indonesia, Willson Kalip, menekankan bahwa transformasi ritel Jakarta kini bergerak menuju era experience-led retail.
Konsep open-air lifestyle, social space, serta kurasi tenant yang relevan terbukti lebih resilien dalam fase pemulihan pasar.
“Namun demikian, kesiapan omnichannel tetap menjadi elemen krusial, mengingat bangunan fisik ritel kini merupakan bagian integral dari ekosistem online retail yang terus berkembang,” tutupnya.
Simak Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News








