RealEstat.id (Jakarta) – Tahun 2026 diproyeksikan menjadi fase akselerasi sektor properti, ditopang target pertumbuhan ekonomi 6,0% dari pemerintah dan 5,0% versi Bank Indonesia.
Belanja negara naik 8,9% menjadi Rp3.842 triliun dengan defisit terjaga di 2,68%, memperkuat stabilitas ekonomi.
Sementara itu, kredit perbankan tumbuh 7,74% (YoY) per November 2025, membuka ruang penguatan intermediasi dan potensi penurunan suku bunga domestik.
Pemerintah turut mendorong pasar melalui perpanjangan insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) 100% hingga Desember 2027.
Kebijakan ini dinilai memberi kepastian bagi pembeli rumah pertama dan investor, sekaligus membuat harga rumah baru lebih kompetitif dibanding pasar sekunder.
Baca Juga: Di Tengah Gejolak Global, Pasar Properti Indonesia Diproyeksikan Rebound di 2026
Data Pinhome menyebut, meski minat properti biasanya melemah di akhir tahun, segmen rumah di bawah Rp1 miliar justru tumbuh 5% (MoM) pada Desember 2025, berbanding terbalik dengan rumah di atas Rp1 miliar yang turun 3%.
“Ini menegaskan batas harga PPN DTP masih menjadi acuan utama konsumen dan stimulus fiskal efektif menjaga pasar primer,” tutur CEO & Founder Pinhome, Dayu Dara Permata.
Memasuki tahun kedua pemerintahan, imbuhnya, stabilitas politik dinilai lebih kuat sehingga mendorong realisasi permintaan yang sempat tertunda.
Kepastian perpanjangan PPN DTP dan peningkatan kuota FLPP dipercaya membantu konsumen keluar dari sikap wait and see.
Di sisi lain, segmen rumah mewah (di atas Rp3 miliar) mencatat lonjakan pencarian signifikan, naik 20% (QoQ) pada Kuartal III 2025 dan kembali tumbuh 36% pada kuartal IV 2025.
Baca Juga: Tren Pasar Properti 2026: Dari Lapangan Padel Hingga Ekspansi Pergudangan
Menurut Dara, kenaikan ini menunjukkan investor besar mulai masuk lebih awal seiring meredanya ketidakpastian politik.
Sementara itu, pulihnya segmen atas juga memperkuat likuiditas pengembang, sehingga mendorong percepatan pembangunan di segmen menengah dan bawah.
“Dengan demikian, pemulihan pasar properti 2026 berpotensi terjadi lebih merata di seluruh lapisan harga,” terangnya.
Jabodetabek dan Preferensi Rumah Milenial dan Gen Z
Sementara itu, menukil riset Center of Economic and Law Studies (Celios) BBC Indonesia, sekitar 70% perputaran uang di Indonesia masih terpusat di Jakarta dan Sekitarnya.
Hal ini yang membuat kawasan Jabodetabek masih menjadi barometer pengembangan rumah tapak di Indonesia. Apalagi kawasan ini memiliki jumlah penduduk yang besar, yakni sekitar 31 juta jiwa.
Baca Juga: Kinerja Penjualan Solid, Begini Peta Perumahan Tapak Jabodetabek di 2026
“Dengan indikator tersebut menjadikan permintaan rumah tapak di Jabodetabek tetap konsisten dan tinggi,” jelas Martin Samuel Hutapea, Associate Director Research & Consultancy Department PT Leads Property Services Indonesia.
Data Leads Property menyebut, di tahun 2025, terdapat sekitar 196.700 unit pasokan rumah tapak di Jabodetabek dengan tingkat penjualan sekitar 93%.
Secara rata-rata harga unit rumah di Jabodetabek pada 2025 berkisar Rp2,7 miliar per unit, atau meningkat 10,5% secara tahunan.
“Tangerang memimpin pasokan rumah tapak dengan menyumbang 92.000 unit dengan rerata harga Rp3 miliar per unit dan tingkat penjualan mencapai 94%,” kata Martin.
Di sisi permintaan, generasi milenal dan Gen Z ternyata memilih kawasan township sebagai pilihan utama, lantaran memiliki beragam kelebihan.
Baca Juga: Kehadiran Akses Tol Pacu Transformasi Township Jadi Pusat Pertumbuhan Ekonomi Baru
Di kota mandiri, mereka bisa mendapat tiga kelebihan. Pertama, perumahan yang memiliki bermacam fasilitas, seperti ritel, perkantoran, hotel, sport center, sekolah, rumah sakit, dan sarana penghijauan.
Kedua, infrastruktur jalan dan aksesibilitas yang baik. Ketiga, kedekatan dengan sarana transportasi umum, bahkan transit oriented development (TOD).
Terkait kepemilikan, Generasi Milanial dan Gen Z memiliki preferensi harga rumah ideal yakni berkisar Rp500 juta – Rp2 miliar.
Umumnya mereka membayar melalui fasilitas kredit pemilikan rumah (KPR) dengan uang muka (DP) sebesar 10% – 30% dan tenor 15 – 20 tahun.
Martin menngungkapkan, ke depan, para pengembang masih akan terus merilis produk rumah tapak untuk memenuhi kebutuhan tempat tinggal.
Baca Juga: Kepemilikan Rumah jadi Solusi Finansial untuk Gen Z ditengah Himpitan Sandwich Generation
“Jabodetabek masih akan menjadi kawasan yang diminati konsumen terutama generasi milenial dan Gen Z, seiring dengan berkembangkan kegiatan perekonomian di kawasan utama Indonesia tersebut,” ujarnya.
Harga rumah Rp1 miliar – Rp3 miliar diperkirakan masih akan mendominasi pasar dengan mayoritas pembeli end-user.
“Hal ini berbeda dengan beberapa tahun silam, di mana kebanyakan pembeli rumah adalah investor,” jelas Martin Samuel Hutapea.
Leads Property memperkirakan, harga rumah dalam setahun ke depan berkisar Rp2,78 miliar – Rp2,83 miliar per unit, di mana kenaikan harga bermain di angka 3% – 5%.
“Kami memperkirakan tingkat penjualan secara keseluruhan akan berkisar 92% – 94%,” katanya, menambahkan.
Baca Juga: Tawarkan Konsep YOSECA, Maggiore Signature West Hadir di Paramount Gading Serpong

Paramount Gading Serpong, Wajah Baru Kota Mandiri yang Terus Bertumbuh
Di tengah dinamika pasar properti yang semakin kompetitif dan selektif, Paramount Land menegaskan komitmennya melalui peresmian identitas, logo, dan tagline baru bertajuk Paramount Gading Serpong.
Peluncuran ini bertepatan dengan perayaan HUT Paramount Enterprise ke-19 pada 18 Desember 2025, menjadi simbol fase kematangan sekaligus arah baru pembangunan kota mandiri yang terintegrasi dan berkelanjutan.
Direktur Paramount Land, Chrissandy Dave, menyampaikan bahwa transformasi identitas ini bukan sekadar penyegaran visual, melainkan penegasan visi jangka panjang dalam membangun kawasan yang adaptif terhadap perkembangan zaman.
Menurut Chrissandy, setelah lebih dari satu dekade membangun dan menumbuhkan kawasan, Kota Gading Serpong telah berkembang jauh melampaui titik awalnya.
“Brand identity ‘Paramount Gading Serpong’ adalah simbol kedewasaan kawasan hunian dan cerminan kepercayaan diri kami terhadap masa depan,” ujarnya.
Baca Juga: Ekosistem Kota Kian Solid, Paramount Gading Serpong Siap Bawa Tangerang Raya Naik Level
Pengalaman panjang Paramount Land sebagai pengembang terpercaya di Indonesia berawal dari keberhasilan membangun Gading Serpong menjadi salah satu kota mandiri dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Tanah Air.
Saat ini, kawasan tersebut telah menjadi rumah bagi hampir 120 ribu penduduk di luar komuter. Tercatat, lebih dari 40 klaster hunian telah terhuni, didukung area komersial dengan tingkat okupansi tinggi.
Infrastruktur kota yang matang, fasilitas publik lengkap, transportasi umum, serta boulevard utama dengan lalu lintas lebih dari 15.000 kendaraan per jam memperkuat posisi kawasan ini sebagai pusat aktivitas baru di Tangerang Raya.
Chrissandy menuturkan, identitas baru Paramount Gading Serpong hadir sebagai payung seluruh kawasan, menjamin konsistensi kualitas hunian, komersial, dan gaya hidup.
“Desain brand yang modern namun berakar, sederhana tetapi berkelas, serta adaptif di era digital, mencerminkan relevansi untuk pertumbuhan jangka panjang,” katanya.
Baca Juga: Manfaatkan Insentif Bebas PPN, Paramount Land Gulirkan Program #TaxFreeSeason 2026
Secara geografis, Paramount Gading Serpong berada di lokasi yang sangat strategis di barat Jakarta. Kawasan ini diapit oleh sejumlah pengembangan besar seperti Alam Sutera, BSD City, dan Lippo Karawaci.
“Posisi ini menjadikannya titik temu pertumbuhan ekonomi dan mobilitas masyarakat Jabodetabek,” papar Chrissandy Dave, menjelaskan.
Keunggulan lokasi tersebut mendorong peningkatan nilai properti secara konsisten, menjadikan Paramount Gading Serpong tidak hanya ideal sebagai hunian, tetapi juga prospektif sebagai instrumen investasi jangka panjang.
Di tengah pasar yang dinamis, konsumen kini semakin selektif dalam memilih hunian. Faktor aksesibilitas, kelengkapan fasilitas, potensi pertumbuhan nilai, hingga kualitas lingkungan menjadi pertimbangan utama.
Paramount Gading Serpong menjawab kebutuhan tersebut melalui pembangunan infrastruktur berkelanjutan dan penyediaan fasilitas kota yang terus diperbarui.
Baca Juga: Maggiore Perkuat Posisi Paramount Gading Serpong Sebagai ‘The Most Vibrant Commercial Area’
Lebih lanjut Chrissandy Dave mengatakan, tak sekadar kawasan hunian, Paramount Gading Serpong dikembangkan sebagai sebuah ekosistem kehidupan.
Mengusung filosofi ‘City within Reach’, kawasan ini dirancang agar penghuninya dapat memenuhi kebutuhan harian dengan mudah—mulai dari hunian, area komersial, pendidikan, kuliner, hingga ruang terbuka hijau—semuanya dalam jangkauan.
“Konsep ‘Everything is Here’ menjadi pendekatan utama, menghadirkan kedekatan antarzona dan integrasi fungsi kota,” terangnya.
Di samping itu, Paramount Land juga membangun ekosistem bisnis jangka panjang melalui kehadiran berbagai anchor tenant dari beragam kategori usaha, yang menjadi magnet bagi pengunjung, pelaku usaha, hingga investor.
“Komitmen terhadap penatalayanan, akuntabilitas, dan kualitas menjadi fondasi pengembangan kawasan. Identitas baru Paramount Gading Serpong merepresentasikan nilai-nilai tersebut sekaligus memperkuat positioning sebagai kota mandiri yang berwawasan lingkungan dan berbasis teknologi maju,” urainya.
Chrissandy menjelaskan, dalam situasi pasar properti yang fluktuatif, kawasan dengan fundamental kuat dan ekosistem matang cenderung lebih resilien.
Pertumbuhan penghuni yang stabil, tingginya okupansi bisnis, serta peningkatan traffic harian menjadi indikator bahwa Paramount Gading Serpong tetap diminati.
Dengan populasi yang terus bertambah dan aktivitas ekonomi yang hidup, kawasan ini menunjukkan daya tahan sekaligus potensi pertumbuhan berkelanjutan.
“Tidak hanya menarik bagi end-user yang mencari kualitas hidup lebih baik, tetapi juga bagi investor yang membidik capital gain dan recurring income,” tuturnya.
Menurut Chrissandy, transformasi menjadi Paramount Gading Serpong menandai babak baru kota mandiri ini yang tidak hanyasebagai tempat tinggal, melainkan sebagai ruang hidup yang menyatukan hunian, bisnis, dan komunitas dalam satu ekosistem terpadu.
“Di tengah dinamika pasar properti nasional, Paramount Gading Serpong membuktikan bahwa konsistensi kualitas, integrasi kawasan, dan visi pembangunan berkelanjutan menjadi kunci mempertahankan kepercayaan konsumen sekaligus menciptakan nilai jangka panjang,” pungkasnya.
Simak Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News








