RealEstat.id (Jakarta) – Penyaluran dana Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) di tahun 2025 ditutup dengan capaian tertinggi sepanjang sejarah sejak program ini bergulir pada 2010.
Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera) mencatat, hingga 31 Desember 2025, total penyaluran FLPP mencapai 278.868 unit rumah dengan nilai pembiayaan sebesar Rp34,64 triliun.
Penyaluran tersebut melibatkan 40 bank penyalur yang bekerja sama dengan 22 asosiasi pengembang perumahan, mencakup 13.249 proyek perumahan yang dikelola oleh 8.113 pengembang di 33 provinsi serta 401 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
Capaian ini menegaskan peran strategis FLPP sebagai instrumen utama pemerintah dalam memperluas akses kepemilikan rumah layak bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
Baca Juga: Kuasai Pangsa 46,7%, BTN Jadi Penyalur KPR Sejahtera FLPP Terbesar di 2025
Dari sisi penerima manfaat, pekerja swasta masih mendominasi dengan 205.311 unit rumah atau 73,63% dari total penyaluran.
Disusul oleh wiraswasta sebanyak 39.218 unit (14,06%), PNS 20.814 unit (7,46%), TNI/Polri 5.409 unit (1,94%), serta kategori lainnya sebanyak 8.083 unit (2,90%) dan segmen lain 33 unit (0,01%).
Dibandingkan tahun sebelumnya, pertumbuhan penerima manfaat FLPP menunjukkan tren yang sangat positif. Penyaluran kepada pekerja swasta meningkat 31,3%, wiraswasta melonjak 58,7%, PNS mencatatkan kenaikan signifikan hingga 145,7%, sementara TNI/Polri tumbuh 36,9%.
Dari sisi perbankan, Bank BTN tetap menjadi penyalur terbesar FLPP dengan realisasi 132.744 unit rumah atau 47,60% dari total penyaluran nasional.
Baca Juga: BP Tapera Gandeng 43 Bank, Target Penyaluran KPR FLPP 2026 Naik Jadi Segini
Posisi berikutnya ditempati oleh BSN dengan 59.463 unit (21,32%), BRI 32.206 unit (11,54%), BNI 15.159 unit (5,44%), Bank Mandiri 11.122 unit (3,98%), dan diikuti bank-bank penyalur lainnya.
Pada sisi asosiasi pengembang, REI menempati peringkat pertama dengan kontribusi pembangunan 117.680 unit rumah atau 42,20% dari total penyaluran FLPP.
Disusul oleh APERSI dengan 82.514 unit (29,59%), HIMPERRA 37.593 unit (13,48%), APERNAS 9.522 unit (3,41%), ASPRUMNAS 9.207 unit (3,30%), serta 17 asosiasi perumahan lainnya.
Secara regional, Provinsi Jawa Barat masih menjadi wilayah dengan penerima manfaat FLPP terbesar, yakni 62.591 unit rumah atau 22,44%.
Baca Juga: KPR Subsidi Laris Manis, BP Tapera Cetak Rekor Penyaluran FLPP 2025
Berikutnya adalah Jawa Tengah (24.470 unit/8,77%), Sulawesi Selatan (23.255 unit/8,34%), Banten (18.966 unit/6,80%), dan Jawa Timur (18.361 unit/6,58%).
Di tingkat kabupaten/kota, Kabupaten Bekasi masih meraih peringkat pertama penerima manfaat FLPP di Indonesia sebesar 14.702 unit rumah (19%) disusul Kabupaten Bogor sebanyak 10.195 unit rumah (13%), Kabupaten Tangerang 8.246 unit rumah (11%), dan Kabupaten Karawang 7.097 unit rumah (9%).
Sementara itu, Kota Kendari menyumbang 6.895 unit rumah (9%), Kabupaten Maros 6.233 unit rumah (8%), Kota Palembang 6.198 unit rumah (8%), Kabupaten Deli Serdang 5.992 unit rumah (8%), Kabupaten Kubu Raya 5.246 unit rumah (7%) dan kabupaten Gowa 5.242 unit rumah (7%).
Komisioner BP Tapera, Heru Pudyo Nugroho menyampaikan realisasi penyaluran dana FLPP mencapai 79,68% dari target yang ditetapkan pemerintah sebesar 350 ribu unit rumah.
Baca Juga: BTN Dominasi Penyaluran KPR FLPP 2025, Presiden Prabowo Beri Apresiasi
Meskipun tidak sampai ke angka 350 ribu unit, imbuhnya, namun pencapaian tahun ini adalah yang tertinggi sepanjang sejarah penyaluran dana FLPP sejak tahun 2010.
“Dengan komposisi 99,99% atau 278.865 unit merupakan rumah tapak dan sisanya 0,001% (3 unit) rumah susun,” ujar Heru, menjelaskan.
Langkah Strategis BP Tapera di 2026
Untuk tahun 2026, pemerintah menargetkan penyaluran FLPP sebanyak 350 ribu unit rumah dengan total anggaran Rp37,1 triliun.
Dana tersebut bersumber dari DIPA sebesar Rp25,1 triliun, pengembalian pokok yang digulirkan kembali Rp10,4 triliun, serta saldo awal tahun Rp1,6 triliun.
Baca Juga: BP Tapera Dorong Akselerasi Penyaluran FLPP bagi Pekerja Informal
“Sesuai dengan Nota Keuangan tahun 2026, Pemerintah mengalokasikan pencadangan pembiayaan investasi untuk memenuhi potensi penambahan target penyaluran FLPP sampai dengan 350.000 unit rumah di tahun depan,” tutur Heru.
Memasuki tahun 2026, BP Tapera juga menyiapkan sejumlah strategi, salah satunya peningkatan alokasi FLPP bagi sektor pekerja nonformal menjadi 15%, dari sebelumnya 10%.
Langkah ini diharapkan dapat memperluas akses KPR Sejahtera FLPP bagi ART, pengemudi ojek online, pedagang sayur, dan profesi nonformal lainnya di seluruh Indonesia.
Selain itu, BP Tapera tengah menyiapkan diversifikasi produk FLPP melalui pengembangan skema Kredit Bangun Rumah dan Kredit Renovasi Rumah.
“Saat ini kami sedang menyiapkan aturan dan regulasinya sesuai petunjuk pelaksanaan dari Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman,” pungkas Heru.
Simak Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News








