RealEstat.id

Pasokan Bertumbuh, Green Office Perkuat Daya Saing Perkantoran CBD Jakarta

Porsi green office hingga akhir tahun 2025 diproyeksikan mencapai sekitar 37% dari total ruang perkantoran di kawasan CBD Jakarta.

green office gedung hijau cbd jakarta realestat.id dok
Foto: Ilustrasi Gemini AI

RealEstat.id (Jakarta) – Konsep green office di kawasan central business district (CBD) Jakarta, saat ini telah melampaui sekadar pemenuhan sertifikasi.

Green office dipahami secara lebih komprehensif sebagai wujud efisiensi operasional gedung, mulai dari pengelolaan dan penghematan penggunaan air serta listrik, pemantauan konsumsi energi, upaya pengurangan emisi karbon, pemilihan material bangunan yang lebih ramah lingkungan, hingga pengaturan mobilisasi dan transportasi karyawan yang lebih berkelanjutan.

Pada awal tahun ini, tercatat sekitar 351.000 meter persegi ruang perkantoran di CBD Jakarta tengah dalam proses pengajuan sertifikasi hijau.

Tambahan pasokan ini akan semakin memperbesar porsi green office, yang hingga akhir tahun diproyeksikan mencapai sekitar 37% dari total ruang perkantoran di kawasan CBD Jakarta.

Baca Juga: Tenant Makin Peduli ESG, Pasar Perkantoran Hijau Tumbuh Stabil di CBD Jakarta

Secara historis, pertumbuhan pasokan green office berlangsung bertahap. Pada periode 2019–2020, ketersediaannya masih berada di bawah 1 juta meter persegi, kemudian terus meningkat secara konsisten hingga pada akhir 2025 mencapai sekitar 2,7 juta meter persegi.

Meski menunjukkan perkembangan yang progresif, gedung perkantoran hijau belum sepenuhnya mendominasi pasar, mengingat total pasokan ruang perkantoran di CBD Jakarta saat ini masih berada di kisaran 7,3 juta meter persegi.

Berdasarkan pemantauan Knight Frank, semakin matangnya pasar green office tercermin dari permintaan yang relatif kuat, terutama dari tenant dengan komitmen tinggi terhadap prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), termasuk perusahaan multinasional.

Di sisi lain, komitmen pemilik gedung juga semakin nyata dengan memasukkan klausul atau pasal-pasal hijau dalam perjanjian sewa.

Baca Juga: Wisma BCA Foresta Raih Greenship Existing Building Kategori Platinum dari GBCI

Fenomena ESG-driven tenant yang tengah berlangsung menunjukkan bahwa pasar semakin dewasa dalam memaknai green office.

Konsep ini tidak lagi terbatas pada aspek green by design, tetapi telah berkembang menjadi implementasi gedung hijau yang fungsional, dengan operasional yang efisien dan berorientasi pada keberlanjutan lingkungan hidup.

Preferensi occupier terhadap green office kini telah menjadi baseline expectation, sejalan dengan komitmen menuju net zero.

Hal ini menandai sebuah kemajuan penting dalam perjalanan panjang menuju fase transisi pengembangan properti yang lebih hijau dan berkelanjutan (green development).

Sejalan dengan perkembangan tersebut, tingkat okupansi green office di CBD Jakarta terpantau relatif stabil, dengan rata-rata berada di kisaran 78%.

Baca Juga: Pasar Perkantoran Jakarta: Menuju Fase Pemulihan, Meski Oversupply Membayangi

Angka ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata okupansi gedung non-green office yang berada di kisaran 75% dalam lima tahun terakhir, sekaligus menegaskan daya tarik dan ketahanan green office di tengah dinamika pasar perkantoran.

Green building menjadi diferensiasi penting di tengah pasar ruang perkantoran yang kompetitif dengan pasokan yang berlebih di Jakarta,” jelas Country Head Knight Frank Indonesia, Willson Kalip.

Di antara buah manis yang dapat dipetik dari jalan panjang adaptasi landlord perkantoran terhadap green development ditandai dengan hampir seluruh ruang kantor pada kelas premium Grade A (88%) saat ini telah berlabel hijau di CBD Jakarta.

Sementara separuh stok ruang kantor pada kelas grade-A telah berlabel hijau, kelas ini berada pada fase transisi yang menjadikan label hijau sebagai ‘minimum requirement’.

Baca Juga: Pasokan Stagnan, Strategi Rightsizing Banyak Dipakai Tenant Perkantoran di CBD Jakarta

Memang tidak mudah menggeser dominasi non-green office di CBD Jakarta saat ini, terutama di tengah rerata harga sewa green-office yang lebih moderat dibandingkan dengan non-green office.

Namun, kematangan pelaku pasar membawa asa terhadap masa depan green-office yang lebih optimis untuk tumbuh dan mendominasi pasar.

Sejalan dengan hal di atas, Christine Li, Head of Research Knight Frank Asia Pasifik menyebutkan bahwa, “Pasar di Asia Pasifik saat ini menunjukan bahwa occupier semakin selektif mengarahkan permintaan ke ruang perkantoran berkualitas tinggi dengan prinsip ESG di lokasi inti yang paling prima.

“Dengan target optimalisasi pemanfaatan ruang yang lebih tinggi, strategi penyesuaian ukuran (rightsizing), serta pergeseran menuju lokasi di pusat kota diperkirakan akan menopang aktivitas penyewaan kantor di tahun 2026,” ungkapnya.

Redaksi@realestat.id

Simak Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News

Topik

Artikel Terkait