RealEstat.id

Naik 8%, Investasi Properti Asia Pasifik Tembus USD162 Miliar di 2025: Riset Colliers

Riset Colliers menyebut, berdasarkan sektor, perkantoran masih menjadi tulang punggung aktivitas investasi properti di kawasan Asia Pasifik.

investor-pasar-properti-asia-pasifik-tokyo-pixabay-realestat.id-dok
Tokyo, Jepang (Foto: Pixabay.com)

RealEstat.id (Jakarta) – Aktivitas investasi properti di kawasan Asia Pasifik terpantau mulai memasuki fase pemulihan dalam skala yang lebih luas.

Kondisi ini didukung oleh pasar yang makin jelas, pelonggaran situasi keuangan, serta kembalinya kepercayaan investor yang mendorong aliran modal kembali bergerak ke sektor properti.

Hal tersebut terungkap dalam laporan terbaru Asia Pacific Investment Insights March 2026 yang dirilis oleh konsultan properti Colliers.

Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa total volume investasi properti di sembilan pasar utama Asia Pasifik mencapai USD162 miliar sepanjang 2025, atau tumbuh 8% secara tahunan (year-on-year).

Baca Juga: Konflik Iran Vs AS-Israel Memanas, Pasar Properti Indonesia Terancam Lesu? Begini Analisa Colliers

Momentum pertumbuhan terutama terlihat pada paruh kedua tahun 2025, ketika ekspektasi harga antara pembeli dan penjual mulai menemukan titik temu.

Pemulihan ini terutama ditopang oleh aliran modal domestik yang semakin kuat, yang tetap menjadi fondasi utama aktivitas investasi di sebagian besar pasar.

Sementara itu, partisipasi investor lintas negara (cross-border) juga tetap menunjukkan ketahanan, khususnya di kota-kota gerbang investasi seperti Hong Kong, Singapura, dan India.

Menurut Theo Novak, Managing Director Capital Markets & Investment Services Colliers Asia Pacific, saat ini mulai terlihat perubahan sikap investor dari fase kehati-hatian menuju keyakinan untuk kembali berinvestasi.

“Kami melihat pergeseran dari sikap hati-hati menjadi lebih yakin. Investor kini memprioritaskan kejelasan pasar, kualitas aset, serta pasar dengan kedalaman modal yang kuat,” ungkap Novak dalam keterangan tertulis.

Baca Juga: Pasar Perumahan Nasional Tetap Stabil di Tengah Penyesuaian Daya Beli: Riset Pinhome

Dia menambahkan, dengan dukungan modal domestik yang stabil serta mulai kembalinya minat investor internasional, kawasan Asia Pasifik tengah memasuki fase pemulihan investasi yang lebih terukur, disiplin, dan semakin luas cakupannya.

Secara geografis, Korea Selatan, Jepang, dan Singapura menjadi tiga pasar dengan volume investasi terbesar di antara sembilan pasar utama Asia Pasifik pada 2025.

“Hal ini menegaskan kedalaman pasar dan ketahanan sektor properti di negara-negara tersebut,” katanya, menambahkan.

Adapun dari sisi pertumbuhan tahunan, Singapura dan India mencatatkan kinerja paling kuat dengan kenaikan masing-masing 35% dan 29%.

Peningkatan ini mencerminkan membaiknya fundamental pasar serta semakin luasnya peluang investasi properti di kedua negara.

Baca Juga: Di Tengah Gejolak Global, Pasar Properti Indonesia Diproyeksikan Rebound di 2026

Sektor Perkantoran Masih Mendominasi

Riset Colliers menyebut, berdasarkan sektor properti, aset perkantoran masih menjadi tulang punggung aktivitas investasi di Asia Pasifik.

Permintaan penyewa terhadap gedung perkantoran berkualitas tinggi yang berlokasi strategis tetap kuat, sementara pasokan baru di kawasan CBD (Central Business District) relatif terbatas.

Di sisi lain, sektor industri dan logistik menempati posisi kedua dengan nilai investasi mencapai USD30,1 miliar.

Meski sedikit melambat dibandingkan aktivitas yang sangat kuat pada 2024, sektor ini tetap menjadi salah satu pilihan utama investor.

Baca Juga: Ekspansi Korporasi Dorong Pasar Properti Jakarta di 2026, Ritel dan Hotel Ikut Terkerek

Sementara itu, investasi di sektor ritel mulai menunjukkan peningkatan signifikan dengan pertumbuhan 15% secara tahunan.

Kinerja aset yang membaik serta meningkatnya sentimen konsumen turut mendorong kembali minat investor pada segmen ini.

Menariknya, kelas aset alternatif muncul sebagai segmen dengan pertumbuhan tercepat, didorong oleh tingginya permintaan dari investor institusional.

“Properti perkantoran masih menawarkan skala investasi besar, transparansi, serta stabilitas pendapatan. Namun, kami juga melihat percepatan minat terhadap aset alternatif dan ritel tertentu seiring investor melakukan diversifikasi portofolio,” jelas Novak.

Menurutnya, semakin beragamnya aktivitas investasi ini menjadi sinyal penting bahwa pemulihan pasar properti Asia Pasifik berlangsung lebih sehat dan berkelanjutan.

Baca Juga: Tren Pasar Properti 2026: Dari Lapangan Padel Hingga Ekspansi Pergudangan

Prospek Investasi 2026 Semakin Menguat

Ke depan, Colliers memproyeksikan momentum investasi properti di Asia Pasifik akan semakin menguat pada 2026.

Hal ini didukung oleh stabilnya suku bunga dan inflasi, meningkatnya visibilitas terhadap kondisi pembiayaan, serta pemulihan bertahap aliran modal lintas negara.

Modal domestik diperkirakan tetap menjadi penggerak utama transaksi properti. Namun, partisipasi investor luar negeri juga berpotensi semakin luas seiring meningkatnya selera risiko dan semakin jelasnya kepastian harga pasar.

Sektor inti seperti perkantoran diprediksi tetap memiliki kedalaman pasar yang kuat. Sementara itu, aset alternatif dan ritel tertentu diperkirakan akan menarik tambahan aliran modal, seiring investor mencari ketahanan pendapatan dan potensi pertumbuhan jangka panjang.

Lebih lanjut, Theo Novak mengatakan, meski sejumlah tantangan masih ada, arah pergerakan pasar sudah semakin jelas.

“Peningkatan visibilitas pasar modal, prospek pertumbuhan domestik yang relatif lebih kuat, serta kembali aktifnya investor lintas negara menjadi fondasi bagi pemulihan investasi yang lebih seimbang dan luas di Asia Pasifik pada 2026,” tutupnya.

Redaksi@realestat.id

Simak Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News

Topik

Artikel Terkait