RealEstat.id (Jakarta) – Ketegangan konflik geopolitik antara Iran vs Amerika Serikat (AS), dan Israel kembali memicu kekhawatiran global.
Meski konflik terjadi jauh dari Indonesia, efek rambatannya berpotensi memengaruhi sektor strategis, termasuk pasar properti nasional.
Properti atau real estate merupakan sektor yang sangat sensitif terhadap stabilitas makroekonomi dan persepsi jangka panjang.
Berdasarkan analisa konsultan real estate global, Colliers Indonesia, meski dampaknya tidak langsung, tetapi ketegangan Iran vs AS-Israel membawa pengaruh melalui sejumlah jalur transmisi ekonomi.
Baca Juga: Pasar Lahan Industri Greater Jakarta Tetap Solid di Tengah Tekanan Pasok
Dampak Konflik Iran Vs AS-Israel
1. Harga Minyak dan Tekanan Inflasi
Eskalasi konflik di Timur Tengah berisiko mendorong lonjakan harga minyak dunia, terutama jika mengganggu distribusi energi global.
Sebagai negara pengimpor energi, Indonesia rentan terhadap tekanan inflasi akibat kenaikan biaya transportasi dan logistik.
Inflasi yang meningkat berpotensi membuat kebijakan moneter tetap ketat atau mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama
Baca Juga: Ritel Menengah Jakarta Harus Berani Berevolusi Jika Ingin Bertahan.
Head of Research Services Colliers Indonesia, Ferry Salanto menjelaskan dalam konteks properti, suku bunga menjadi variabel krusial karena mayoritas pembelian rumah kelas menengah masih mengandalkan Kredit Pemilikan Rumah (KPR).
“Kenaikan bunga akan berdampak langsung pada keterjangkauan cicilan dan daya beli masyarakat, khususnya di segmen menengah dan menengah bawah,” ujar Ferry Salanto.
2. Nilai Tukar Rupiah dan Biaya Material Impor
Ketidakpastian global sering memicu capital outflow ke aset safe haven seperti dolar AS dan emas.
Dampaknya, nilai tukar rupiah berpotensi melemah. Pelemahan kurs ini akan meningkatkan biaya material impor
Contohnya, elevator, façade system, serta sistem HVAC pada proyek gedung bertingkat.
Baca Juga: Pasar Perkantoran CBD Jakarta Tunjukkan Ketahanan di Tengah Lesunya Investasi
“Proyek high-rise menjadi lebih sensitif terhadap fluktuasi nilai tukar dibandingkan rumah tapak, karena proporsi material impornya lebih besar,” kata Ferry.
Kondisi ini dapat menekan margin pengembang atau mendorong penyesuaian harga jual, terutama pada proyek apartemen dan perkantoran premium.
3. Biaya Konstruksi dan Ekspansi Proyek
Jika pelemahan rupiah cukup tajam dan permintaan pasar melambat, pengembang cenderung menunda peluncuran proyek baru.
Ferry menambahkan, fokus biasanya dialihkan pada penjualan stok yang ada serta penyesuaian spesifikasi untuk mengendalikan biaya.
Namun, proyek yang telah memasuki tahap konstruksi umumnya tetap berjalan demi menjaga arus kas dan reputasi perusahaan di mata investor maupun kreditur.
Baca Juga: Penyerapan Lahan Industri Diprediksi Bertumbuh: Riset Colliers
Segmen yang Rentan dan Relatif Tahan Konflik
Dalam pandangan Colliers Indonesia, beberapa segmen properti terbilang rentan terhadap konflik Iran vs AS-Israel, antara lain:
- Apartemen kelas menengah atas yang banyak dibeli investor
- Properti bersifat spekulatif
- Pengembang dengan leverage tinggi
- Hotel berbasis MICE dan pusat perbelanjaan
Ferry Salanto menuturkan, segmen menengah ke bawah juga terdampak karena sangat sensitif terhadap kenaikan bunga KPR dan inflasi kebutuhan pokok.
Sebaliknya, rumah tapak berbasis end-user relatif lebih resilien karena permintaannya didorong kebutuhan dasar.
Sedangkan kawasan industri berbasis manufaktur riil juga cenderung lebih stabil, terutama jika ditopang investasi jangka panjang.
Baca Juga: Bahas Solusi Sektor Perumahan, Menteri PKP Temui Colliers Indonesia
Strategi di Tengah Ketidakpastian
Lebih lanjut Ferry Salanto menerangkan bagi end-user dengan kebutuhan riil dan likuiditas memadai, pembelian rumah tetap dapat dipertimbangkan.
Terutama jika tersedia promo atau skema bunga tetap kompetitif.
“Untuk investor, sebaiknya berfokus pada lokasi strategis dengan fundamental kuat,” lanjut dia.
Mengingat properti bukan aset likuid, daya tahan terhadap perlambatan transaksi menjadi faktor kunci dalam menjaga kinerja portofolio.
Di tengah dinamika global, sektor properti Indonesia memang menghadapi tantangan sentimen. Namun, fundamental domestik yang berbasis kebutuhan hunian tetap menjadi penopang utama keberlanjutan pasar.
Simak Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News








