Keajaiban Senen: Beli Apartemen, Dapat Kereta!

Lahan kawasan Senen adalah faktor pembesar harga di Ibu Kota. Ada faktor Land Value Capture di sana, karena lokasinya menempel segitiga: Menteng, Thamrin, dan istana.

Muhammad Joni (Foto: Dok. RealEstat.id)
Muhammad Joni (Foto: Dok. RealEstat.id)

RealEstat.id (Jakarta) – Malam ini saya hendak pergi ke Milan. Mencari cercah nilai keajaiban. Mencari portofolio kebahagiaan. Memungut tangkapan nilai (value capture) dari kota mode tersebut.

Saya melibatkan "kawan" dekat, dia adalah buku hebat, demi mengutip testimoni. Dari buku ukuran pendek alias mini. Buku terbitan tahun tinggi: 1971. Judulnya apa?

Sabar sebentar. Teruslah membaca. Buku itu usianya panjang. Terasa dari hawa bau helai-helai kertas. Gaya huruf. Jenis ketikan. Juga, edjaan. Kerutan dan tampilan luntur warna ungu-kuning, bercak di kulit buku. Jangan hakimi takdir buku dari lisut kulitnya. Dari ukurannya yang pendek. Tenaganya luar biasa.

Buku pendek juncto gaek itu berujar-cerita inspiratif. Imajinasi yang panjang perihal ajaibnya Senen di ujung mata pena algoritma sang seniman. Kedua: Senen & Seniman itu ajaib, dan tetap hidup!

Baca Juga: Ini 12 Catatan Penting Bila Prabowo Mau Sukses Besut Program Tiga Juta Rumah

Ini alkisah ajaibnya seniman dari angkatan Senen. Pembesar sastra bernama Misbach Jusa Biran berhasil usil dan asyik menggelitik.

Menyanjung ‘Glory of Senen’. Lahan kawasan Senen adalah faktor pembesar harga di ibu kota Jakarta. Senen yang berharga. Ada faktor Land Value Capture di Senen, karena lokasinya menempel segitiga mutiara: Menteng, Thamrin, dan istana. Itulah keajaiban Senen.

Kembali kepada keajaiban Senen versi Misbach Jusa Biran. Ada-ada saja inspirasi pemantik cerita, yang tak terbayangkan apa menjadi ending-nya. Pun ketika kelok alur ceritanya sudah lewat paragraf babak pertengahan.

Seperti sopir tak sanggup menduga mobil apa di muka, hanya melihat awan, tatkala melewati gelombang panjang jalan lintas Sumatera yang mulus, namun naik mendaki bak busur montok. Rambunya tegak, kuning mencolok. Cerita pemantik jiwa penasaran.

Baca Juga: UU DKJ Adalah Berkah, Esensi Jakarta Tetap Menyala Berkat Beberapa Faktor Ini

Ada alkisah si kerempeng Rebin. Dia seniman subsider pelukis. Pelukis yang difigurkan malang, dan sekaligus sosok yang ajaib. Rebin bukan Robin. Dia tak pandai melukis sejak kecil. Namun nasib memang ajaib, Rebin menjadi pelukis ajaib seketika.

Bukan anak Binjai, Rebin acuh saja kepada olok-olokan rombongan seniman Senen. Pernah, tetiba satu lukisan Rebin menjadi kejadian ajaib.

Dirancang hendak menganiaya semangat juang dan pabrik senyum milik Rebin. Lukisannya di gantung terbalik. Itu aksi frontal mengolok-olok karya Rebin. Di tengah pesta pameran lukisan.

Ajaibnya, se-suku jam (15 menit) setelah lewat pembukaan pameran, lukisan digantung terbalik—yang tak diketahui Rebin itu—berubah ajaib. Laku dengan harga ajib. Seniman Senen geger dalam alibi “Miracolo a Senen Radja” (MaSR).

Baca Juga: Stasiun Lebak Bulus Diusulkan Jadi Model Penyediaan Hunian Berbasis TOD

Mau tahu harga senyum? Harga ajaib dari senyum ajaib. Bacalah “MaSR”. Harganya setara seisi dunia. Seperti bait puisi seniman Janto ke NZ: Nunung Zubaedah. Bait itu bunyinya:

“Surga di tangan kananku/ Seluruh dunia di tangan kiriku/ Kalau balas saja senyumku, sayang…”.

Buku “MaSR” ini bukan judul aseli, mengikuti film lama berjudul “Miracolo a Milano”—Keajaiban Milan—itu karya lama (1951) sutradara Italia Vittoria de Sica.

Seni dan seniman menang ajaib. Apakah keajaiban Senen, masih ada? Ada! “Beli Apartemen Dapat Kereta”, kata Menteri PUPR saat groundbreaking TOD (Transit Oriented Development) Stasiun Pasar Senen, 10-10-2017.

Sontak saya hendak mengambil “Beli Apartemen Dapat Kereta” (BADK) menjadi judul buku. Saksi dengarnya Juneidi D Kamil, litigator banking spesialist yang kolumnis produktif beberapa majalah properti. Cop, ya bang Ahmad Rinaldi, redaktur pelaksana Majalah Real Estat Indonesia, sesama anak Binjai-Langkat mencari ke-mendai-an juncto kebahagiaan di rantau Senen, ehh.., Jakarta.

Baca Juga: Polusi Melanda Ibu Kota Jakarta, Apa Kabar Kesehatan Perkotaan?

TOD Senen dan “BADK” itu bak energi kebangkitan ‘Miracolo a Senen Radja’. Macam sesi eksepsi-bantahan kepada S.M. Ardan yang menyetujui Misbach Jusa Biran, bahwa keajaiban Senen telah tamat—‘The Glory is Over’—dalam tulisan ‘Sekedar Pengantar’ untuk buku “MaSR”.

Pembaca yang bersemangat. Kalau Rebin masih ada di era IG-mania, dari “ajaibilitas” karya lukisannya, saya percaya dia sudah membeli kereta, ehh.., apartemen di Senen.

Jika dikonversi ke dalam "kurs" imajinasi, “Beli Apartemen Dapat Kereta” itu, alahai tidak lebih ajaib daripada nilai juncto harga senyum ajaib Puan NZ kepada Mas Janto. Harusnya kita belajar kepada Janto perihal reproduksi enzim bahagia.

Timbang dan dengarlah kata-kata Mas Janto berikut ini: “…kalau orang tidak punya rasa romantis, ia akan kaku seperti Nero”. Kawan seangkatan Janto menimpali, “..kalau Nero itu bisa menghargai dan memudja ketjantikan Nunung Zubaedah, pasti kota Roma tidak akan terbakar”. Akankah figur pemuja keindahan seperti Janto—sosok tukang senyum pengeritik Nero itu—cocok menjadi Menteri Kebahagiaan?

Baca Juga: Andai Kota-Kota itu Bernyawa, Tidak Cukup Transformasi 40 Kota

Malam itu buku “MaRS” tergeletak di meja. Bercahaya di bawah sorot sinar kamera. Seperti sang bintang. Saya mereguk kopi. Mencari sisi ajaib kaldu rasanya. Sembari berusaha menikmati kelat-manis dari specialty gayo long berry. Dengan senam syaraf akrobat lidah setengah terbalik. Ikhtiar mempertahankan atau menihilkan elektabilitas satu-satunya karakter “?” pada paragraf di atas.

Membaca esai ini esok: tanggal 7 Juli, saya memungut tiket ke Milan, ups…, keajaiban; bahwa mereguk portopolio kebahagiaan tak harus ke Milan. Walau banyak jalan menuju Milan via Medan.

Tahukah lembaca, angka ‘7’ itu karakter yang tulus menaungi sesiapa saja, yang jangkauannya lebih jauh melampaui tapaknya sendiri. Ajib dan ajaibnya tak perlu dibalik, seperti lukisan Rebin. Adakah itu semacam 7-7 value capture. Seperti bait puisi untuk NZ saja. Miracolo a 7-7 (“Ma77”).

Seperti halnya puisi dan lukisan, imajinasi non bendawi apartemen menjadikannya karya cipta ajaib. Tersebab itu, value capture-nya bernilai mahal. Tahniah Ma77-2024. Tabik.

Artikel ini ditulis oleh: Muhammad Joni, SH, MH.
Penulis adalah advokat perumahan rakyat, Sekretaris Umum The Housing and Urban Development (HUD) Institute, anggota Badan Kajian Strategis DPP REI (2023 - 2027), Ketua bidang Hukum dan Advokasi DPP HIMPERRA), dan Sekjen PP IKA Universitas Sumatera Utara.

Redaksi@realestat.id

Simak Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News

Berita Terkait

Ristyan Mega Putra (Foto: dok. realestat.id)
Ristyan Mega Putra (Foto: dok. realestat.id)
Ristyan Mega Putra (Foto: dok. realestat.id)
Ristyan Mega Putra (Foto: dok. realestat.id)
Dzaky Wananda Mumtaz Kamil (Foto: Dok. Pribadi)
Dzaky Wananda Mumtaz Kamil (Foto: Dok. Pribadi)
Dzaky Wananda Mumtaz Kamil (Foto: Dok. Pribadi)
Dzaky Wananda Mumtaz Kamil (Foto: Dok. Pribadi)