RealEstat.id (Jakarta) – Pasar apartemen sewa Jakarta mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang semakin solid, khususnya di kawasan central business district (CBD) yang menjadi pusat aktivitas tenaga kerja profesional dan ekspatriat.
Meningkatnya mobilitas kerja, penguatan sektor jasa dan teknologi, serta kembalinya aktivitas korporasi secara bertahap menjadi katalis utama dalam mendorong perbaikan tingkat hunian sekaligus menjaga stabilitas harga sewa.
Konsultan properti Knight Frank Indonesia mencatat, pada penghujung 2025 tercatat sekitar 326 unit baru apartemen sewa yang masuk ke pasar Jakarta.
Kehadiran pasokan baru tersebut dinilai memberikan sinyal positif bagi industri, di tengah dinamika dan tantangan global maupun nasional yang masih berlangsung.
Baca Juga: Pasar Apartemen Sewa di Jakarta: Pasokan Didominasi Serviced Apartment
“Ke depan, pasar apartemen sewa di Jakarta diproyeksikan terus bergerak ke arah yang lebih baik, meskipun dengan laju pertumbuhan yang relatif bertahap,” terang Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia, Syarifah Syaukat.
Dari sisi permintaan, kalangan ekspatriat Asia masih menjadi kontributor utama, terutama yang berasal dari China, Jepang, dan Korea Selatan.
Permintaan ini terkonsentrasi pada kawasan CBD dan Prime Non-CBD, seiring dengan kebutuhan hunian yang dekat dengan pusat bisnis dan fasilitas penunjang.
“Selain itu, kehadiran ekspatriat dari Amerika Serikat serta sejumlah negara Eropa juga turut memperkuat pasar,” terang Syarifah, menambahkan.
Baca Juga: Knight Frank: Ekspatriat Asia Dominasi Permintaan Apartemen Sewa di Jakarta
Berdasarkan data yang dikumpulkan Knight Frank Indonesia pada Semester II 2025, terlihat pasokan apartemen sewa Jakarta meningkat menjadi 10.131 unit.
“Hal ini didukung oleh beroperasinya dua proyek baru di kawasan CBD dan Prime Non-CBD, yakni Ascott Menteng dan Citadines Antasari,” kata Sari, sapaan akrab Syarifah Syaukat.
Rata-rata tingkat hunian tercatat mengalami koreksi tipis ke level sekitar 66,5%. Kendati demikian, rata-rata harga sewa menunjukkan perbaikan dengan indikasi kenaikan tahunan sebesar 3% – 5% (year-on-year).
Sari menyebut, koreksi ringan masih terjadi pada segmen apartemen non-servis, terutama akibat meningkatnya kompetisi layanan.
“Secara keseluruhan, pasokan apartemen sewa bertambah sekitar 7% secara tahunan, sementara pasokan baru berikutnya diperkirakan kembali masuk pasar pada 2028,” tuturnya.
Baca Juga: Rilis Areum Residence, Travelio Hadirkan Standar Baru Hunian Sewa Premium
Sementara itu, Country Head Knight Frank Indonesia, Willson Kalip, menegaskan bahwa perbaikan kinerja pasar apartemen sewa perlu terus dijaga agar dapat kembali membentuk struktur permintaan yang kuat seperti periode sebelum pandemi.
Menurutnya, pertumbuhan yang terjadi juga perlu diarahkan secara lebih konstruktif agar tidak terjebak dalam kondisi softening market.
“Resiliensi pertumbuhan pasar apartemen sewa harus menjadi fokus. Produk dengan keunggulan lokasi strategis dan layanan prima menjadi diferensiasi utama yang perlu dioptimalkan untuk memperluas dan menjaga keberlanjutan pasar apartemen sewa dalam jangka panjang,” ujar Willson.
Simak Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News








