RealEstat.id (Jakarta) – Lanskap industri properti di Indonesia, terutama yang menyangkut desain bangunan ramah lingkungan telah mengalami perkembangan signifikan seiring meningkatnya kemampuan teknologi cerdas buatan atau artificial intelligence (AI).
Hampir dua dekade, konsep gedung ramah lingkungan atau populer pula dengan sebutan arsitektur hijau menjadi tema yang nge-tren diperbincangkan dan diadopsi oleh para pelaku industri.
Dalam konteks keberlanjutan (sustainablility), bangunan hijau tak hanya soal lingkungan rindang nan asri saja.
Melainkan, juga berbicara tentang penggunaan teknologi cerdas yang dapat mendukung penghematan energi.
Ini merupakan paradoks, mengingat sebagian besar gedung di Indonesia terbangun masih menerapkan pengelolaan energi dengan cara konvensional.
Baca Juga: Pentingnya Standar Keamanan Konstruksi untuk Bangun Masa Depan Arsitektur Berkelanjutan
Apalagi berdasarkan laporan Architecture 2030, sektor properti menyumbang hampir 40% terhadap emisi karbon global.
Tentu, hal ini menjadi tantangan bagi pelaku industri dalam mencari solusi untuk menekan angka tersebut.
Dari Gedung Konvensional Menuju Bangunan yang Lebih Cerdas
Sementara itu, menurut konsultan otomasi gedung Interval Data Systems (IDS), sekitar 40% inefisiensi operasional sudah terbentuk sejak tahap desain.
Bahkan, data dari U.S. Environmental Protection Agency mengungkapkan bahwa sebanyak 30% energi di dalam gedung terbuang sia-sia.
Artinya, teknologi cerdas menjadi salah satu solusi untuk membuat bangunan bekerja lebih efisien agar mencapai tujuan desain gedung yang ramah lingkungan.
Baca Juga: Mengupas Ekspresi Kejujuran Material Ekspos Pada Seni Arsitektur
Dr. Nirmal Kishnani dalam buku berjudul ‘Menghijaukan Asia: Bangkitnya Prinsip-Prinsip Arsitektur Berkelanjutan‘ (2016) menyebutkan bahwa efisiensi merupakan inti dari menghijaukan (bangunan) di Asia.
“Indeks efisiensi yang paling umum adalah kilowatt hour (kWh) per m2 dari total luas lantai atau TLL,” terang pria yang dikenal pula sebagai professor dan Direktur Program Master Sains, Desain Berkelanjutan Terintegrasi di National University of Singapore itu.
Lebih dari Sekedar Otomasi
Lebih lanjut Nirmal Kishnani menjelaskan, efisiensi mencangkup seluruh energi yang digunakan oleh pengguna bangunan.
Antara lain, pendingin ruangan (AC), pencahayaan, serta elemen gedung lainnya yang membutuhkan energi listrik, seperti lift dan eskalator.
Persoalannya tidak berhenti pada energi saja.
Bangunan juga harus lebih tangguh menghadapi berbagai gangguan, sekaligus mampu menyediakan lingkungan yang nyaman.
Baca Juga: Schneider Electric Dorong Smart Hospital di Indonesia, Efisiensi Energi Jadi Kunci
Musababnya, manusia menghabiskan waktunya hampir 90% berada di dalam ruangan.
Karena itu, konsep bangunan cerdas (smart building) kini bergerak lebih jauh dari sekadar otomatisasi lampu atau pendingin ruangan.
Hal ini selaras dengan Permen PUPR Nomor 10 Tahun 2023 yang mendefinisikan Bangunan Gedung Cerdas (BGC) sebagai Bangunan Gedung Hijau yang dilengkapi sistem manajemen gedung pintar secara terintegrasi dan otomatis.
Prinsip utamanya mencakup otomasi, konektivitas, manajemen energi terpadu, keamanan siber, analitik data atau machine learning, serta pemantauan berkelanjutan.
Dengan pendekatan ini, berbagai sistem yang sebelumnya berjalan sendiri-sendiri dapat dipantau dalam satu ekosistem.
Data Menjadi “Mata” bagi Pengelola Gedung

Di sinilah peran Building Management System (BMS) menjadi penting.
Business Vice President for Buildings Schneider Electric Indonesia, Reza Syarif berpendapat bahwa efisiensi membutuhkan pendekatan yang terintegrasi dan berbasis data.
Dengan sistem berbasiskan data, maka pemilik dan pengelola gedung dapat memahami kondisi bangunan hingga mengoptimalkan pengelolaan operasional gedung.
“Efisiensi energi bukan sekadar mengurangi konsumsi listrik saja. Akan tetapi memastikan setiap energi digunakan secara tepat, tanpa mengorbankan keandalan, keselamatan, dan kenyamanan pengguna,” ujar Reza Syarif.
Baca Juga: Schneider Electric Hadirkan Software Manajemen Gedung Pintar Terbaru, Apa Saja Keunggulannya?
Reza mengatakan, Schneider Electric berkomitmen membantu menciptakan sistem operasional bangunan modern yang efisien, andal, dan berkelanjutan melalui kampanye #TeknologiCerdasGedungEfisien.
Komitmen itu terangkum dalam empat pilar utama, yaitu:
- Hyper-Efficient: memaksimalkan kinerja dengan mengoptimalkan sistem dan alur kerja.
- Resilient: memastikan bangunan tetap beroperasi dengan baik saat terjadi gangguan, serta mampu pulih dengan cepat setelahnya.
- Sustainable: menggunakan sumber daya lebih hemat, memperpanjang masa pakai aset, dan mengelola biaya secara bijak.
- People-centric: menciptakan lingkungan yang nyaman dan mendukung produktivitas bagi semua orang.
Solusi untuk Efisiensi Operasional Gedung
Salah satu solusi yang ditawarkan Schneider, guna membantu efisiensi dalam operasional adalah EcoStruxure Building Operation.
Platform BMS milik Schneider itu memungkinkan pengelola memantau dan mengoptimalkan sistem heating, ventilation, and air conditioner (HVAC), kelistrikan, pencahayaan, keamanan, hingga energi secara terintegrasi.
Visibilitas yang real-time membuat pengelola tidak harus menunggu masalah terjadi untuk kemudian bertindak.
Pendekatan serupa juga diterapkan pada pengelolaan energi melalui EcoStruxure Power Monitoring Expert (PME).
Sistem ini membantu mengidentifikasi pola konsumsi dan potensi pemborosan energi.
Baca Juga: Schneider Electric Perkuat Upaya Pembangunan Berkelanjutan dan Dekarbonisasi
Dengan demikian, data tidak berhenti sebagai angka di layar, tetapi dapat diterjemahkan menjadi tindakan operasional.
Bagi pemilik hotel, pendekatan tersebut juga dapat mereka terapkan untuk aset propertinya melalui Guest Rooms Management System (GRMS).
Guest Rooms Management System Schneider tersebut bisa mengintegrasikan pencahayaan, HVAC, tirai, dan perangkat kamar.
Sistem pengelolaan gedung pintar itu dapat membantu menyesuaikan penggunaan energi berdasarkan tingkat okupansi, tanpa mengabaikan kenyamanan tamu.
Ketika Efisiensi Bisa Terukur
Salah satu gambaran konkret dari implementasi teknologi cerdas Schneider Electric untuk bangunan yang efisien terlihat pada SMC RS Telogorejo, Semarang, Jawa Tengah.
Rumah sakit tersebut menerapkan Building Management System (BMS) untuk mengintegrasikan pemantauan utilitas kritis, seperti HVAC, sistem kelistrikan, dan UPS, dalam satu command center melalui EcoStruxure Building Operation.
Pengelolaan yang sebelumnya dilakukan secara manual dan reaktif. Kemudian, beralih menjadi sistem manajemen yang cerdas dan berbasis data.
Hasilnya cukup terukur!
Baca Juga: Teknologi Schneider Electric Dukung Transformasi Digital RS Telogorejo jadi Smart Hospital
Total pengeluaran listrik turun 5% pada 2025, sekaligus membalikkan tren kenaikan biaya sebesar 9% per tahun.
Waktu respons teknis terhadap anomali juga menjadi 60% lebih cepat berkat peringatan otomatis.
Di ruang operasi, kepatuhan terhadap standar suhu dan kelembapan mencapai 100%.
Sistem tersebut juga dirancang untuk mendukung target efisiensi konsumsi listrik bulanan sebesar 10–15%, melalui pengelolaan daya yang lebih terukur.
Dalam kesempatan terpisah COO Yayasan Kesehatan Telogorejo, Glenda Angeli mengatakan bahwa pihaknya merasakan manfaat dari digitalisasi dan otomasi dalam sistem manajemen gedung tersebut.
“Kami dapat mengelola operasional dengan efisien, menjaga keselamatan, dan memperkuat komitmen terhadap keberlanjutan,” ujar Glenda.
Pada akhirnya, teknologi cerdas dalam bangunan bukan semata-mata perlombaan menghadirkan perangkat terbaru saja
Akan tetapi nilainya justru terletak pada kemampuan teknologi membuat bangunan lebih responsif terhadap kondisi aktual dan berjalan dengan operasional yang efisien.
Baca Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News








