RealEstat.id (Lebak) – Guna meningkatkan kualitas hidup keluarga prasejahtera, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) bersama Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) memperbaiki 20 Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) di empat wilayah Indonesia.
Kerja sama ini dilakukan di berbagai daerah untuk menjangkau lebih banyak masyarakat Indonesia yang masih tinggal di hunian tidak layak.
Sebanyak 20 RTLH yang direnovasi BTN dan PPATK tersebut tersebar masing-masing lima unit di Lebak, Cianjur, Sukabumi, dan Purworejo.
Tak hanya itu, program ini melanjutkan kolaborasi BTN dan PPATK yang pada 2025 telah memperbaiki 15 unit rumah, sehingga dalam dua tahun sebanyak 35 rumah telah menjadi penerima manfaat.
Baca Juga: BP Tapera Dukung Peluncuran Program BSPS 2026 di Jawa Barat, 1.000 Rumah Siap Diperbaiki
Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu mengatakan, perbaikan RTLH menjadi salah satu solusi untuk membantu masyarakat yang belum memiliki kemampuan memperoleh rumah lewat pembiayaan atau memperbaiki rumah secara mandiri.
Menurutnya, hal ini sangat penting dilakukan, mengingat sekitar satu dari tiga keluarga Indonesia masih tinggal di rumah yang belum memenuhi seluruh kriteria hunian layak.
Nixon menuturkan, BTN hidup dari industri perumahan sehingga memahami betul bahwa belum semua segmen masyarakat bisa mendapatkan rumah melalui KPR, terutama masyarakat desil 1, 2, 3 dan sebagian desil 4 yang masih memiliki keterbatasan untuk membayar angsuran.
“Oleh karena itu, salah satu solusi yang bisa kita lakukan adalah melalui bedah rumah,” ujar Nixon LP Napitupulu di Desa Warunggunung, Kabupaten Lebak, Banten, Kamis (13/8/2026).
Baca Juga: Kunjungi Lokasi BSPS di Manado, Hashim Dorong Penerima Bantuan Dapat Sertifikat Tanah Gratis
Lebih lanjut, dia mengatakan, penyelesaian persoalan rumah tidak layak huni membutuhkan keterlibatan banyak pihak.
Untuk itu, BTN dan PPATK pun berkomitmen menjadikan program bedah rumah sebagai kegiatan tahunan dengan menyasar wilayah yang masih menghadapi kemiskinan dan kemiskinan ekstrem.
Dia menjelaskan, apa yang dilakukan BTN dan PPATK hari ini memang masih bagian kecil, tetapi bila semua korporasi dan institusi memiliki gerakan yang sama, ribuan rumah bisa diperbaiki setiap tahun.
“Kita tidak hanya menunggu pemerintah, korporasi juga bisa bergerak bersama dan dampaknya langsung dirasakan masyarakat,” katanya.
Baca Juga: Program BSPS 2026 Diluncurkan, BP Tapera Dorong Akses Hunian Layak dan Pembiayaan Rumah
Program perbaikan RTLH dinilai juga sejalan dengan transformasi BTN menuju Beyond Mortgage – Membangun Rumah, Membangun Kehidupan.
Tak hanya itu, kegiatan tersebut juga sejalan dengan semangat transformasi BUMN di bawah Danantara Indonesia untuk menciptakan nilai dan dampak berkelanjutan bagi masyarakat.
Sebagai informasi, penerima manfaat program RTLH ditentukan melalui koordinasi dengan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman serta pemerintah daerah setempat, disertai proses verifikasi kondisi rumah dan kelayakan penerima.
Program tersebut sekaligus mendukung Program 3 Juta Rumah pemerintah dan memperkuat semangat BTN untuk tidak hanya membangun rumah, tetapi juga membangun kehidupan masyarakat yang lebih baik.
Baca Juga: Program BSPS 2026 Diluncurkan, Pemerintah Targetkan Perbaikan 400.000 Rumah Tidak Layak Huni
Pada kesempatan yang sama, Kepala PPATK, Ivan Yustiavandana mengatakan, program bedah rumah merupakan bagian dari Gerakan Nasional Anti Pencucian Uang Indonesia yang telah memasuki usia 24 tahun dan menjadi gerakan bersama berbagai pemangku kepentingan.
“Dalam rangka Gerakan Nasional Anti Pencucian Uang Indonesia yang ke-24, kami bersama seluruh stakeholder, pada kesempatan ini bersama BTN, membangun dan memperbaiki rumah untuk membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan kebutuhan dasar berupa papan. Ke depan kegiatan seperti ini akan terus kami laksanakan bersama BTN,” ungkapnya.
Semangat “Rumah Bersih, Keuangan Bersih” juga akan diperluas melalui literasi keuangan keluarga. Pasalnya, keluarga merupakan kelompok terkecil di masyarakat yang menjadi fondasi dalam membentuk perilaku finansial yang sehat dan berkelanjutan.
Sementara itu, dampak program juga dirasakan salah seorang penerima manfaat, Sanatra, yang sebelumnya tinggal bersama keluarganya di rumah dengan kondisi rusak dan bocor.
Baca Juga: Kementerian PKP Bahas Kuota BSPS, RUU Perumahan, dan Rusun Subsidi: Permudah Rakyat Miliki Hunian
“Dulu rumahnya mau roboh, bocor. Mau memperbaiki enggak punya uang, karena untuk makan dan kebutuhan anak-anak saja. Alhamdulillah sekarang sudah bagus. Senang banget, saya, istri, sama anak. Terima kasih banget kepada BTN,” ujarnya.
Di lain pihak, Wakil Bupati Lebak, Amir Hamzah, juga mengapresiasi langkah yang dilakukan oleh BTN dan PPATK.
Menurutnya, tingkat kemiskinan di Kabupaten Lebak masih sekitar 8,03%, dengan sekitar 5.000 warga berada dalam kategori kemiskinan ekstrem sehingga turut memengaruhi kondisi tempat tinggal masyarakat.
“Kami sangat berterima kasih kepada PPATK yang telah memberikan perhatian kepada daerah kami dan juga kepada BTN. Kabupaten Lebak masih menghadapi persoalan kemiskinan. Karena itu, kami berharap kegiatan seperti ini dapat terus hadir di Kabupaten Lebak,” ujar Amir.
Simak Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News








