RealEstat.id (Jakarta) – Di tengah perlambatan pasar perhotelan yang dipengaruhi perubahan pola perjalanan dan meningkatnya persaingan, para pemilik hotel di Bali dan Jakarta mulai mengadopsi strategi baru untuk menjaga daya saing bisnis mereka.
Tak hanya mengandalkan promosi harga, sejumlah pelaku industri memilih melakukan rebranding serta meningkatkan kualitas layanan dan fasilitas hotel guna menarik segmen pasar yang lebih spesifik dan bernilai tinggi.
Colliers Indonesia mencatat, dalam setahun terakhir, setidaknya lima hotel di Jakarta telah menjalani proses rebranding atau perubahan merek, mencerminkan pergeseran yang lebih luas dalam industri menuju reposisi aset.
“Beberapa temuan utama dari fenomena rebranding hotel ini mencakup pergeseran dari volume ke profitabilitas, peningkatan nilai aset, reposisi melalui konsep yang diperbarui, serta adaptasi terhadap pola permintaan yang terus berubah,” ungkap Head of Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto.
Baca Juga: Wisatawan Asing Meningkat, Perhotelan Indonesia Pulih pada September
Kendati terjadi penurunan aktivitas Meeting, Incentive, Convention, Exhibition (MICE), terangnya, Jakarta tetap menunjukkan potensi yang kuat pada segmen pemerintah dan korporasi, yang menjelaskan masih dominannya pasokan hotel kelas atas.
Menurut Ferry, inisiatif rebranding dan peningkatan kualitas telah mendorong peningkatan proporsi hotel bintang 4 dan 5 dalam total pasokan di Jakarta.
Tercatat, hingga kuartal pertama tahun 2026, total inventaris hotel mencapai sekitar 49.106 kamar, dengan hotel bintang 4 menyumbang sekitar 40% dari total pasokan.
“Ke depan, tambahan hotel kelas atas diperkirakan akan memasuki pasar, sehingga semakin memperketat persaingan di segmen ini,” jelasnya.
Baca Juga: Kebijakan Pemerintah Sukses Genjot Kinerja Hotel Bintang 3 di Jakarta
Bali Tetap Menarik untuk Bisnis Hotel
Sementara itu, riset Colliers Indonesia menyebut, pada kuartal pertama tahun 2026, pembukaan hotel baru hasil rebranding di Bali menegaskan kepercayaan investor terhadap fundamental pariwisata jangka panjang di Pulau Dewata.
Ferry Salanto mengatakan, di tengah tantangan jangka pendek, Bali tetap tetap memiliki daya tarik investasi, terutama pada aset perhotelan kelas atas.
“Pulau ini tetap menjadi destinasi utama untuk pengembangan hotel mewah, dengan tambahan sekitar 1.623 kamar hotel bintang 5 yang diperkirakan akan selesai antara tahun 2026 hingga tahun 2029,” urainya.
Di sisi lain, imbuh Ferry, konsep kemewahan juga terus mengalami perubahan, kini tidak lagi hanya ditentukan oleh skala proyek atau klasifikasi bintang, tetapi semakin dipengaruhi oleh unsur eksklusivitas, personalisasi, dan pengalaman yang ditawarkan.
Baca Juga: Permintaan Wisatawan Domestik Dongkrak Okupansi Hotel Indonesia di 2025
Untuk itu, sejumlah pengembangan proyek baru mulai menekankan aspek wellness, suasana layaknya tempat peristirahtan (retreat), serta pengalaman yang dirancang secara khusus bagi tamu.
“Konsep ini terutama menarik bagi wisatawan generasi milenial dan Gen Z yang lebih mengutamakan pengalaman perjalanan yang bermakna, autentik, dan mendalam,” jelasnya.
Dalam lingkungan yang semakin dinamis, hotel yang mampu menunjukkan kelincahan operasional, posisi pasar yang kuat, serta penawaran berbasis pengalaman akan berada pada posisi terbaik untuk mempertahankan kinerja dan menangkap peluang baru.
“Hotel yang mampu memanfaatkan rebranding secara efektif, mengoptimalkan operasional, dan mengidentifikasi segmen permintaan baru akan lebih mampu menjaga kinerja serta menghadapi tantangan pasar yang terus berkembang,” pungkas Ferry.
Simak Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News








