RealEstat.id (Jakarta) – Memasuki tahun 2026, pasar apartemen Jakarta menunjukkan perubahan struktur permintaan yang semakin mengarah pada kebutuhan hunian riil atau end-user driven demand.
Tren ini terutama terlihat pada segmen tertentu yang memiliki preferensi terhadap unit berukuran menengah, terintegrasi dengan transportasi publik, serta ditawarkan pada tingkat harga yang relatif terjangkau.
Meski demikian, kondisi pasar secara umum masih bersifat fluktuatif dan belum sepenuhnya stabil. Demikian hasil riset Knight Frank Indonesia bertajuk Jakarta Property Highlight di Semester II 2025.
Menurut Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia, Syarifah Syaukat, situasi ini membuat sejumlah proyek apartemen yang sempat menghentikan pembangunan konstruksi belum kembali menyatakan kesiapan untuk merilis produknya hingga akhir tahun 2025.
Baca Juga: Pasar Apartemen Jakarta Stabil, Segmen Upper–Luxury Jadi Penggerak Utama
Di tengah dinamika tersebut, secercah optimisme muncul pada penghujung 2025 dengan hadirnya dua proyek baru yang memasuki tahap serah terima.
“Kehadiran kedua proyek ini menjadi sinyal positif dan memberikan harapan baru bagi pertumbuhan pasar apartemen di Jakarta,” kata Sari, sapaan akrab Syarifah Syaukat.
Lebih lanjut, dia menjelaskan, secara umum, pasar apartemen Jakarta masih memperlihatkan dua karakter yang berbeda.
Pada satu sisi, minat pembeli dari segmen menengah ke bawah masih cenderung membandingkan produk apartemen dengan rumah tapak sebagai alternatif hunian.
“Namun di sisi lain, apartemen segmen premium justru terus menunjukkan permintaan yang relatif stabil, dengan pertumbuhan berkisar 1% – 2% dalam tiga tahun terakhir,” papar Sari.
Baca Juga: Resmi Diluncurkan, Two Sudirman Private Residences Siap Jadi Hunian Private Tertinggi di Jakarta
Berdasarkan pembaruan kondisi pasar apartemen Jakarta pada paruh kedua tahun 2025, sektor strata apartemen mencatat sejumlah perkembangan penting.
Total pasokan apartemen meningkat menjadi 248.485 unit, seiring rampungnya dua proyek baru yang berlokasi di kawasan non-CBD. Tingkat penjualan kumulatif tercatat cukup tinggi, mencapai 96,2%.
Dari sisi komposisi penjualan, segmen middle dan upper-middle menjadi kontributor terbesar, masing-masing menyumbang sekitar 30% dan 38% dari total penjualan kumulatif.
Sementara itu, rata-rata harga unit apartemen baru tercatat menguat sekitar 2% secara tahunan (year-on-year).
Di tengah pemasaran 3.982 unit baru yang masih berlangsung, rerata tingkat penjualan stok baru menunjukkan peningkatan tipis di level 59,6%.
Baca Juga: Buktikan Komitmen, Majapahit Suites Cibubur Gelar Topping Off Tower Mahesa
Country Head Knight Frank Indonesia, Willson Kalip, menilai bahwa pengembangan apartemen ke depan perlu dilakukan dengan pemahaman yang lebih cermat terhadap kebutuhan pasar yang masih bertumbuh.
“Hal ini penting agar pertumbuhan transaksi dapat bergerak secara lebih sehat dan berkelanjutan,” tuturnya.
Keseimbangan antara keterjangkauan harga dan kualitas produk menjadi katalis utama yang menggerakkan performa pasar apartemen saat ini.
“Saya percaya pasar apartemen akan membaik seiring dengan perbaikan daya beli masyarakat serta pertumbuhan ekonomi nasional,” tutup Willson Kalip.
Simak Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News








