RealEstat.id

Optimistis Bisnis Perhotelan Tumbuh di 2026, Metland Siapkan Dua Hotel Baru dan Strategi Rebranding

Tahun 2026, Metland menargetkan kontribusi pendapatan dari lini bisnis hotel berada di kisaran 8%-10% dari total marketing sales perusahaan.

Metland Smara Hotel Bekasi Grand Metropolitan realestat.id dok
Metland Smara Hotel Bekasi yang terkoneksi dengan Grand Metropolitan. (Foto: Istimewa)

RealEstat.id (Bekasi) – Pasar perhotelan di 2025 bisa dibilang cukup menantang, terutama untuk hotel MICE (Meetings, Incentives, Conventions, dan Exhibitions).

Hal ini disebabkan lantaran adanya pembatasan kegiatan acara pemerintah di hotel. Demikian penuturan Wahyu Sulistio, Direktur PT Metropolitan Land, Tbk (Metland) kepada Realestat.id.

Menurut Wahyu, perbaikan baru terlihat di paruh kedua 2025, salah satunya dengan strategi menggeser pasar hotel ke social event dan korporasi. Kendati demikian, imbuhnya, pasar hotel berkonsep leisure, khususnya di Bali masih baik.

“Sementara itu, persaingan yang semakin ketat membuat hotel tidak bisa lagi hanya mengandalkan fasilitas, namun harus memberikan pengalaman menginap yang berbeda dan bernilai bagi para tamu,” terangnya.

Baca Juga: Beroperasi Akhir 2026, Metland Smara Hotel Bekasi Gelar Prosesi Tutup Atap

Lebih lanjut, Wahyu Sulistio mengatakan, Metland melihat prospek bisnis perhotelan di Indonesia pada 2026 masih cukup positif.

“Beberapa indikator pendorong utama, antara lain pertumbuhan pariwisata domestik, mulai pulihnya wisatawan mancanegara, peningkatan konektivitas transportasi, hingga tren masyarakat yang semakin menghargai pengalaman menginap, bukan sekadar fasilitas kamar,” ungkapnya.

Selain itu, penurunan nilai tukar Rupiah seharusnya membuat Indonesia menjadi destinasi yang menarik bagi para wisatawan asing, karena biayanya lebih terjangkau.

“Namun, di tengah peluang-peluang yang ada, pelaku usaha juga harus siap menghadapi tantangan, mulai dari biaya operasional hingga persaingan antar hotel, serta isu geopolitik yang bisa menghambat arus kunjungan wisman,” jelasnya.

Baca Juga: Kebijakan Pemerintah Sukses Genjot Kinerja Hotel Bintang 3 di Jakarta

Dalam menghadapi perubahan perilaku konsumen yang semakin digital savvy, strategi pemasaran hotel pun harus bertransformasi mengedepankan strategi digital dan berbasis pengalaman.

Metland menempatkan optimalisasi kanal digital sebagai prioritas, mulai dari Online Travel Agent (OTA), media sosial, hingga direct booking karena perilaku konsumen kini semakin melek digital.

Selain itu, storytelling mengenai pengalaman menginap, paket tematik serta kolaborasi dengan komunitas dan korporasi terbukti lebih efektif dalam membangun engagement.

“Pasar saat ini tidak hanya sensitif terhadap harga, tetapi juga terhadap nilai dan pengalaman yang ditawarkan,” papar Wahyu Sulistio.

wahyu sulistio metland pt metropolitan land tbk hotel perhotelan realestat.id dok
Wahyu Sulistio, Direktur PT Metropolitan Land, Tbk (Foto: Istimewa)

Baca Juga: Tarif Hotel di Lombok dan Bali Naik 19% saat MotoGP Mandalika 2025

Dia mengungkapkan, saat ini Metland mengoperasikan enam hotel yang tersebar di beberapa wilayah strategis, yakni: Hotel Horison Ultima Bekasi dan Metland Hotel Bekasi (Jabodetabek), Metland Hotel Cirebon (Cirebon), Metland Smara Hotel Kertajati (Kertajati), serta Horison Ultima Seminyak dan Metland Venya Ubud (Bali).

“Dari keenam hotel ini, saat ini Metland mengoperasikan sebanyak 727 kamar,” kata Wahyu Sulistio, menambahkan.

Di tahun 2026 ini, Metland berencana menambah dua hotel, yakni Metland Smara Hotel Bekasi dan Metland Marron Hotel Tomohon, Sulawesi Utara.

Hal ini merupakan bagian dari strategi ekspansi di lini bisnis hotel, sejalan dengan upaya memperluas dan memperkuat portofolio Metland.

Baca Juga: Tarif Hotel Bintang 4 di Jakarta Masih Terlalu Rendah, Idealnya Berapa?

“Hotel-hotel yang direncanakan berada pada kelas bintang 4, dengan konsep yang disesuaikan dengan karakter lokasi dan target pasar masing-masing,” ujar Wahyu.

Di bisnis perhotelan, strategi Metland fokus pada penguatan brand, optimalisasi operasional, dan peningkatan pengalaman tamu. Pengembangan hotel menjadi strategi untuk memperkuat brand Metland di Indonesia.

Tahun 2026, Metland menargetkan kontribusi pendapatan dari lini bisnis hotel berada di kisaran 8%-10% dari total marketing sales perusahaan.

Menyoal rencana rebranding Horison menjadi Metland Hotel, Wahyu mengatakan bahwa penggunaan nama Metland pada hotel-hotel yang dikembangkan merupakan langkah strategis Perseroan dalam mengembangkan jaringan bisnis hotel dibawah naungan Metland Hotel Group (MHG).

Baca Juga: Andalkan Kekuatan Brand, Kinerja Hotel Bintang 5 di Jakarta Membaik

Nomenklatur dibuat berdasarkan bintang, mulai dari bintang tiga, bintang empat, dan bintang empat plus, serta kategori hotel bisnis, resort atau butik.

“Langkah ini diambil dengan tujuan nama Metland menjadi jaminan kualitas dan layanan yang baik serta membangun loyalitas kepada brand Metland,” jelasnya.

Selain hotel-hotel yang telah ada di pipeline 2026, Metland masih terus melihat peluang pengembangan hotel di sejumlah lokasi potensial di Tanah Air.

“Namun, seluruh rencana tersebut masih berada dalam tahap penjajakan dan akan disesuaikan dengan kondisi pasar serta strategi jangka panjang perusahaan,” pungkas Wahyu.

Redaksi@realestat.id

Simak Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News

Topik

Artikel Terkait